Pemuda adalah generasi penerus yang akan membawa tongkat estafet kepemimpinan bangsa. Masa depan bangsa yang menjajikan terletak pada siap tidaknya perubahan dalam diri pemudanya. Tatkala, kondisi pemuda baik, maka masa depan bangsa dapat dijamin eksistensinya. Tatkala sebaliknya, kerumunan pemuda bangsa hanya akan menjadi beban dan menambah masalah yang dihadapi bangsa, yang tentunya dalam berbagai sektor kehidupan.
Pentingnya peranan pemuda bagi eksistensi sebuah bangsa menjadikan suatu kewajiban bagi negara Indonesia untuk meningkatkan kualitas generasi mudanya. Pendidikan merupakan kunci utama untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (pemuda). Sebagai faktor determinan, pendidikan berperan sangat strategis untuk mewujudkan transformasi masyarakat yang cerdas, terbuka, damai dan demokratis.
Tanpa pendidikan yang mencukupi, perubahan yang mengarah cita-cita progresif akan bergerak lamban. Maka kita menyepakati bahwa generasi pemuda dengan tingkat pendidikan yang berkualitas merupakan kebutuhan mendasar untuk mencapai kemajuan bangsa. Oleh karena itu, pendidikan harus dapat dinikmati oleh siapapun. Dalam hal ini, pemerintah sudah selayaknya menyediakan kesempatan bagi orang miskin untuk mendapatkannya.
Penyebab lain terjadinya kemiskinan adalah lemahnya mentalitas dari generasi muda. Jika ini terjadi pada pemuda Indonesia, akan berakibat fatal. Oleh karena itu, wajib bagi pemerintah menyediakan kesempatan belajar kepada pemuda dari kalangan menegah k ebawah agar mendapatkan pendidiakan sampai level perguruan tinggi dengan biaya yang murah. Pendidikan merupakan sarana strategis bagi pembentukan mentalitas kaum muda. Sedangkan mentalitas merupakan salah satu faktor penentu suksesnya suatu pembangunan.
Pembangunan bangsa senantiasa disertai oleh kepemimpinan pemuda yang memiliki mentalitas kuat. Tiap periodisasi zaman selalu dimulai dari berisan pemuda yang visioner, pemuda yang penuh semangat. Sejarah telah mencatat Kebangkian Nasional 1908, Soempah Pemoeda 1928, Kemerdekaan RI 1945, Angkatan 1966, Peristiwa Malari 1974, Gerakan Reformasi 1998, sebuah deretan noktah sejarah pemuda yang gemilang bagi tegaknya peradaban. Semua itu dapat terwujud ketika kondisi pemudanya bermental kuat.
Benar apa yang dikatakan Gunnar Myrdal tige dekade lalu, bahwa negara kita “negara lembek” (soft state). Mentalitas yang lembek itu bukan saja dalam hal etos kerja, melainkan juga dalam hal pembentukan karakter, yakni sikap korup yang membudaya dan melembaga. Tak heran jika futuris Louis Kraar meramalkan bangsa kita akan berada di halaman belakang negara-negara maju (backyard state). Jika tidak berbenah dan optimis dalam memandang perubahan, alamat nubuat tersebut itu niscaya menjadi kenyataan.
Kenyataan yang terjadi saat ini ialah kondisi dimana pendidikan hanya dapat dinikmati oleh golongan menengah keatas. Biaya pendidikan, khusunya perguruan tinggi, sangat mempersulit bagi keluarga dengan penghasilan yang pas-pasan. Padahal, tidak sedikit dari mereka memiliki potensi yang besar jika dikembangkan sampai pendidikan tinggi akan menghasilkan sumber daya yang berkualitas.
Hilangnya generasi
Upaya untuk menciptakan kondisi bangsa yang sarat kemajuan, pemerintah Indonesia mesti melakukan pemberdayaan strategis terhadap para pemudanya. Dalam hal ini, Ki Hajar Dewantara menegaskan bahwa konsolidasi peran pemuda yang berpendidikan penting sebagai “aset” atau modal tiap-tiap individu. Yang pada gilirannya akan menjadi social and cultural capital yang berguna bagi aset nasional.
Ketidakberpihakan pendidikan pada orang miskin di dalam negeri tidak diragukan lagi menjadi problem bagi ketimpangan sosial dan hilangnya sebagian aset masa depan bangsa berupa lost generation. Hal ini menjadi defisit bagi pembangunan manusia Indonesia. Permasalahan kemiskinan seharusnya menjadi perhatian paling serius dalam pembangunan manusia Indonesia.
Ada asumsi yang beredar di masyarakat desa bahwa budaya korupsi pejabat yang merupakan lemahnya negeri ini dalam membentuk karakter generasi mudanya. Hal ini dipengaruhi oleh pendidikan kita yang kacau. Pendidikan anti-korupsi dan pembentukan karakter semestinya diterapkan kepada pemuda kita.
Jadi, membangun Indonesia dimulai dengan memberikan kesempatan kepada generasi muda untuk memperoleh pendidikan yang layak. Ketika kemiskinan banyak melanda generasi muda dan pemeritah tidak memberikan solusi yang tepat guna menghadapi hal ini, maka kemiskinan akan mematahkan semangat pemuda. Pada gilirannya, negara ini akan mengalami krisis kepemimpinan dan hilanglah generasi intelektual yang akan membangun Indonesia kita..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar