BAB
I
PENDAHULUAN
Pengembangan
perangkat pembelajaran adalah serangkaian proses atau kegiatan yang dilakukan
untuk menghasilkan suatu perangkat pembelajaran berdasarkan teori pengembangan
yang telah ada.
Suatu produk
atau program dikatakan valid apabila ia merefleksikan jiwa pengetahuan
(state-of-the-art knowledge). Ini yang kita sebut sebagai validitas isi;
sementara itu komponen-komponen produk tersebut harus konsisten satu sama lain
(validitas konstruk). Selanjutnya suatu produk dikatakan praktikal apabila
produk tersebut menganggap bahwa ia dapat digunakan (usable). Kemudian suatu
produk dikatakan efektif apabila ia memberikan hasil sesuai dengan tujuan yang
telah ditetapkan oleh pengembang.
BAB
II
PEMBAHASAN
Model
desain sistem instruksional yang dikembangkan oleh Kemp merupakan model yang
membentuk siklus. Menurut Kemp pengembangan desain sistem pembelajaran terdiri
atas komponen-komponen yang di kembangkan sesuai dengan kebutuhan, tujuan, dan
berbagai kendala yang timbul.
Komponen-komponen
dalam suatu desain instruksional menurut Kemp adalah:
1.
TUJUAN KHUSUS BELAJAR
Tujuan di perlukan agar hasil perencanaan nantinya dapat
mengembangkan kompetensi yang akan menolong pelajar agar dapat bepartisipasi
dalam lingkungan masyarakat, selain itu, tujuan mesti mengenal perubahan dalam
kebutuhan pelajar dan keterkaitannya dengan apa yang seharusnya diberikan pada
siswa.
Semua program pembelajaran hendaknya didasarkan pada
pengembangan tujuan dan tujuan-tujuan itu dapat diambil dari tiga sumber yaitu
masyarakat, pelajar itu sendiri, dan kawasan pembelajaran.Sebenarnya,
tujuan-tujuan itu terdiri atas filsafat dan dari pertimbangan etika serta
tuntutan dari masyarakat yang menghendaki hasil(out put) pembelajaran tersebut.
Sebuah perencanaan mesti menentukan topik utama.Topik
tersebut akan menjadi cakupan program pembelajaran yang dibuat.Topik biasanya
disusun secara logis, paling simpel, dan konkret sehingga orang dapat lansung
melihat gambaran dari rencana program pembelajaran tersebutTopik dapat disusun
berdasarkan pengalaman yang didapat atau pemikiran yang menjadi dasar sesuatu
yang akan dibuat.
Ketika tim pembelajaran untuk kali pertama menentukan tujuan
umum, banyak dari mereka yang menggunakan istilah-istilah penting sebagai
penunjang atau penggambaran topik agar dapat memahami dengan benar
keluaran(output) dari rancangan pembelajaran.
Semua tujuan belajar diwujudkan sebagai syarat yang akan
meningkatkan aktivitas pembelajaran.Dengan menciptakan tujuan-tujuan yang
pasti, kita dapat mengetahui dengan jelas apa yang ingin kita ajarkan dan
kemudian dapat memutuskan apa-apa saja yang telah dicapai.
Menentukan tujuan merupakan sebuah aktivitas yang bersifat
pengembangan yang meminta ketelitian, perubahan, dan penambahan. Bagi sebagian
guru, tujuan dapat menjadi jelas setelah pelajaran dibuat garis besarnya.
Kategori dari tujuan pembelajaran dapat dikelompokkan mejadi
tiga bagian yaitu:
1) Kognitif,
merupakan kategori yang memberikan perhatian yang lebih dalam program
pendidikan. S.Bloom.dkk, sebuah taksonomi bagi kognitif. Dalam hal ini, dia
(kognitif) dimulai dari pengetahuan sederhana sampai tingkat tertinggi yaitu mengetahui,
memahami, menerapkan, menganalisis, mensintesis, dan mengevaluasi. Tujuan aspek
kognitif berorientasi pada kemampuan berfikir yang mencakup kemampuan
intelektual yang lebih sederhana, yaitu mengingat, sampai pada kemampuan
memecahkan masalah yang menuntut siswa untuk menghubungkan dan menggabungkan
beberapa ide, gagasan, metode atau prosedur yang dipelajari untuk memecahkan
masalah tersebut.[4]
2) Kriteria
yang kedua adalah psikomotor.Ini adalah kemampuan dalam menggunakan dan
mengkoordinasi otot rangka dalam aktivitas fisik dan melakukan sesuatu.
Psikomotor ini meliputi pergerakan tubuh yang kasar, pergerakan halus dikoordinasi, komunikasi non-lisan, dan tingkah laku berbicara.
3) Kategori
yang ketiga adalah afektif.Ini meliputi sikap, penilaian atau penghargaan,
nilai-nilai dan emosi seseorang.David R.Krathwohl.dkk membagi afektif dalam
lima tingkatan, yaitu:
a) Penerimaan, keinginan untuk memberikan
perhatian pada sebuah aktivitas;
b) Menanggapi,
keinginan untuk mereaksi sesuatu;
c) Penilaian,
keinginan untuk menerima sesuatu melalui sikap yang positif;
d) Pengorganisasian,
ketika menemukan situasi yang memiliki lebih dari satu penerapan, keinginan
untuk mengorganisasi nilai dapat digunakan;
e) Penggambaran
sebuah nilai yang kompleks.
2.
ANALISIS TES MATA PELAJARAN
Setelah
mengidentifikasi tujuan pembelajaran, maka akan ditentukan apa tipe belajar
yang dibutuhkan siswa. Tujuan yang dianalisis untuk mengidentifikasi
keterampilan yang lebih khusus lagi yang harus dipelajari. Analisis ini akan
menghasilkan carta atau diagram tentang keterampilan-keterampilan/ konsep dan
menunjukkan keterkaitan antara keterampilan konsep tersebut.
3.
AKTIVITAS BELAJAR
Tahapan ke empat dari model pembelajaran Kemp membicarakan tentang aktifitas
belajar – mengajar. Pada tahapan ini dijelaskan tentang bentuk – bentuk dari
kegiatan bejalar yang efektif.Dalam melakukan proses pembelajaran hendaknya kita memilih
alternatif kegiatan yang paling efektif dan sesuai dengan keadaan siswa. Namun
demikian sebenarnya tidak ada rumus yang baku untuk mensinkronkan alternatif
jenis kegiatan pembelajaran dengan kebuituhan dan kodisi siswa. Namun kita
masih dapat menentukan jenis alternatif pembelajaran dengan cara menganalisis
setiap kelebihan dan kekurangannya lalu disinkronkan dengan keadaan siswa.
Umumnya para guru dapat mendesain pembelajaran dengan
bantuan buku manual. Namun hal itu hanya terbatas pada pembelajaran yang
bersifat tradisional saja. Padahal ilmu pendidikan senantiasa berkembang dan
terus mengeluarkan produk – produk baru yang lebih canggih lagi. Dari sinilah
masalah muncul, karena para guru tidak menguasai produk – produk baru tersebut.
Di sinilah peran seorang pendesain diperlukan.
Bentuk
Pembelajaran
Dalam perkembangan selanjutnya ada tiga alternatif
pembelajaran yang memiliki kelebihan jika dibanding dengan alternatif lainnya.
Tiga alternatif itu adalah presentasi group presentation, individualized
learning, dan interaction between teacher and student.
Ada beberapa alasan yang mendasari ketiga alternatif
pembelajaran di atas. Bentuk pembelajaran di atas dilinai lebih efisien dan
efektif karena dengan melakukan presentasi proses penyampaian informasi lebih
bersifat massif. Selain itu setiap siswa memiliki kondisi percepatan pemahan
yang berbeda dalam memahami suatu materi.
a)
Group Presentation
Pada
kegiatan ini guru atau siswa melakukan sebuah presentasi untuk menyampaikan
sebuah materi. Kegiatan seperti ini harus ditunjang oleh tempat yang memadai
seperti di dalam kelas atau aula. Dalam pelaksanaannya penyaji dapat
menggunakan alat bantu untuk menyampaikan presentasinya alat iotu dapat berupa
media audio, visual, atau audio visual.
Ada
tiga karakter manusia yang akan ditunjukkan oleh siswa dalam kegiatan ini.
Karakter pertama adalah siswa yang aktif berinteraksi. Siswa akan aktif dalam
kegiatan diskusi, ia akan berpendapat, bahkan tetap berkonsultasi dengan
penyaji setelah kegiatannya selesai. Tipe kedua adalah siswa yang hanya bekerja
di tempat duduknya. Dan karakter ketiga adalah siswa yang bersifat kritis pada
setiap materi yang disampaikan oleh penyaji dan biasanya keikutsertaannya lebih
cenderung ke arah banyak bertanya.
b) Individualized
Learning
Yang
melatar belakangi konsep ini adalah bahwa setiap orang memiliki tingkat
kecerdasan dan percepatan pemahaman yang berbeda. Selain itu setiap siswa juga
memiliki pola pikir dan cara belajar yang berbeda. Untuk itu, guru harus dapat
mendesain jenis pembelajaran yang sesuai dengan keadaan dan karakteristik yang
dimiliki oleh siswa. Istilah lain untuk bentuk pembelajaran seperti ini adalah self
instruction, independent study, individualized prescribed instruction, dan self
directed atau self-paced learning.
c) Interaction
between Teacher and Students
Format
pembelajaran seperti ini adalah pembentukan kelompok – kelompok kecil. Dalam
kelompok itu guru dan siswa melakukan diskusi dan saling bertukar pikiran
sehingga dapat terjadi proses mengambiol pelajaran dari peserta lainnya dengan
metode ini juga setiap peserta akan dapat saling memahami karakter satu sama
lain.
Agar
memperoleh hasil yang maksimal, maka anggota kelompok ini harus dibatasi.
Kelompok ini terdiri dari tujuh sampai 12 orang. Ada beberapa kelebihan yang
dapat diambil dari model ini. Dengan model ini para peserta akan terlatih dalam
kemampuan mendengar dan berbicara. Hal ini terlatih ketika mereka tengah
menyampaikan pendapat. Selain itu, bentuk ini juga melatih kepemimpinan.
4.
SUMBER BELAJAR
Hal penting yang tidak boleh kita lupakan adalah media
sumber belajar. Hendaknya kita memilih media yang cocok dengan kondisi dan
materi yang akan diberikan. Media yang baik dapat memotifasi siswa dan dapat
menjelaskan materi secara efektif serta mengilustrasikan isi materi. Media yang
digunakan dapat bermacam – macam. Media yang digunakan dapat berupa media
cetak, media audio, media visual, dan media audio visual yang terpenting media
itu dapat menunjang kegiatan personal maupun kelompok.
Sumber belajar akan menjadi bermakna
bagi peserta didik maupun guru apabila sumber belajar di organisir melalui satu
rancangan yang memungkinkan seseorang dapat memanfaatkannya sebagai sumber
belajar. Jika tidak, maka tempat atau lingkungan alam sekitar, benda, orang,
dan atau buku hanya sekedar tempat, benda, orang atau buku yangtidak berarti
apa-apa.
Sumber belajar harus dipergunakan
secara efektif sehingga melakukan kontak pada pelajar secara tepat. Untuk
memperoleh kegiatan seperti itu, personalia yang terlibat didalamnya harus
melakukan fungsinya. Fungsi tidak sama dengan pekerjaan (job), tetapi
lebih cenderung mengandung aryi
pengelompokan
tugas-tugas atau kegiatan. Beberapa pekerjaan mungkin terdiri dari tugas-tugas,
dan tugas-tugas ini berada dalam lingkungan fungsi.[5]
5.
LAYANAN PENDUKUNG
Selanjutnya kita memerlukan layanan pendukung yang dapat menunjang program
pembelajaran. Hal itu diantaranya adalah biaya, fasilitas, peralatan, waktu dan
jadwal, serta kordinasi dengan aktifitas lainnya
a.
Biaya
Dana merupakan hal yang amat krusial
dalam pengembangan pendidikan. Semua program baru yang akan dipakai tentunya
memerlukan dana untuk memulainya. Sekolah yang ingin mengembangkan program
pendidikannya misalnya saja dengan membuat inovasi baru, penelitian, dan
pengembangan memerlukan biaya untuk menjalankannya. Pemanfaatan biaya dilakukan
ketika masa pengembangan dan selama pemakaian peralatan.
b. Fasilitas
Fasilitas pendidikan merupakan
sarana penunjang bagi proses belajar-mengajar, menurut rumusan Tim Penyusun
Pedoman Pembakuan Media Pendidikan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan yang
dimaksud dengan sarana pendidikan adalah semua fasilitas yang diperlukan dalam
proses belajar mengajar baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak agar
pencapaian tujuan pendidikan berjalan lancar, teratur, efektif dan efisien.[6]
Proses pembelajaran tentunya
membutuhkan fasilitas yang memadai untuk keberlangsungannya. Berikut adalah
kegiatan beserta fasilitas yang dibutuhkannya.Dalam kegiatan presentasi, kita
membutuhkan proyektor audio visual, sound sistem, dan perlengkapan lainnya.
Tempat
pembelajaran mandiri. Merupakan sebuah tempat yang diperuntukkan untuk para
siswa dalam melakukan proses pembelajaran mandiri. Sedangkan ruangan untuk kegiatan belajar
kelompok didesain dengan furniture yang tidak formal kemudian dilengkapi dengan proyektor
audio visual, dan papan display misalnya papan tulis.
Ruang
peralatan. Ruang ini digunakan untuk menyimpan barang – barang yang akan
digunakan dalam proses pembelajaran. Dari ruang ini pula dikordinirnya setiap
peralatan yang digunakan untuk membantu proses pembelajaran.
c. Peralatan
Dalam menjalankan program yang telah
dijalankan tentunya kita memerlukan beberapa peralatan untuk menunjang kegiatan
tersebut. Dalam mendesain sebuah program kita harus memastikan bahwa kita
memiliki atau setidaknya dapat mengusahakan peralatan yang akan kita pakai.
Karena ketidak tersediaan alat bisa sangat mempengaruhi program yang akan
dijalankan.
Selain itu kita harus mencari
informasi sebanyak – banyaknya tentang alat yang akan kita gunakan dari orang
yang kompeten di bidang itu. Kita harus mencari tahu informasi tentang
peralatan yang akan kita gunakan dengan demikian kita dapat memilih barang yang
tepat. Peralatan yang kita pilih sebaiknya peralatan yang mudah dipergunakan
dan memiliki resiko yang kecil.
Hal penting lainnya adalah kita
tetap membutuhkan orang – orang yang kompeten dengan peralatan itu. Selain itu
kita jangan terjebak dengan barang – barang yang canggih, namun sebenarnya kita
tidak memerlukan kecanggihannya agar kita tidak terjebak pada mubazir.
d. Waktu
dan Jadwal
Dalam menentukan program hendaknya
kita memperhatikan jadwal dan wakti yang tepat. Jangan sampai waktu yang kita
tentukan bentrok dengan kegiatan lainnya. Selain itu kita juga harus
memperhatikan jangan sampai waktu yang kita pilih ternyata bentrok dengan
pprogram lain yang ternyata belum selesai.
e. Kordinasi
dengan Aktivitas Lainnya
Kita
pun harus mengkordinasikan program yang kita buat dengan pihak-pihak lainnya. Misalnya saja untuk
masalah perizinan. Terutama sekali jika siswa yang menjadi bagian dari program
kita adalah siswa yang masih membutuhkan bimbingan orang tuanya. Kita harus
mengkomunikasikan kegiatan ioni dengan orang tua. Bahkan jika perlu kita undang
orang tuanya untuk hadir dan mengawasi program yang telah kita rencanakan.
6.
EVALUASI BELAJAR
Evaluasi belajar (pendidikan)
merupakan proses atau kegiatan untuk menentukan kemajuan pendidikan di
bandingkan dengan tujuan yang telah di tentukan, dan sekaligus usaha untuk
memperoleh informasi berupa umpan balik (feed back) bagi penyempurnaan
pendidikan.adapun dalam proses penilaian dilakukan pembandingan antara
informasi-informasi yang telah berhasil dihimpun dengan kriteria tertentu,
untuk kemudian di ambil keputusan atau dirumuskan kebijaksanaan tertentu.[7]
Evaluasi harus sejalan dengan tujuan awal pembelajaran.
Selanjutnya tujuan awal pembelajaran akan berperan sebagai acuan dari evaluasi.
Proses evaluasi ini berfungsi untuk mengukur hasil outcome dari pembelajaran
yang telah dilakukan. Selain itu proses evalusi juga berfungsi untuk mengukur
tingkat keberhasilan program pembelajaranyang telah didesain. Dari proses
evaluasi ini kita dapat melihat perbandingan siswa yang lulus dan tidak lulus.
Jika perbandingan siswa yang lulus lebih banyak dibandingkan siswa yang tidak
lulus maka pembelajaran ini dianggap berhasil.
Ada beberapa bentuk tes yang dapat digunakan untuk proses
evaluasi. Salah satunya adalah tes dengan format pilihan ganda. Tes dengan
bentuk seperti ini bisa diterapkan pada siswa dalam berbagai tingkatan
pemahaman baik yang pemahamannya sudah maksimal maupun belum.
Selain itu ada juga tes yang berbentuk essay. Tes seperti
ini dipakai untuk menguji tingkat pemahaman siswa akan materi yang
dipelajarinya. Dengan bentuk seperti ini siswa dapat lebih mengapresiasikan
pemahamannya dengan lebih leluasa. Dengan metode seperti ini siswa dapat
mengorganisir, menghubungkan dan mengintegrasikan setiap materi yang telah
dipelajarinya.
Ada beberapa karakteristik dari tes yang harus diperhatikan
yaitu,
1) Tes
benar – benar ditujukan untuk mengevaluasi tujuan pembelajaran. Namun dalam
beberapa hal, tes juga dapat digunakan untuk mengetes sub tujuan dari
pembelajaran;
2) Tujuan
pembelajaran yang merupakan tujuan utama dari pembelajaran hendaknya tidak
dites denga denga satu cara tapi dites dengan beberapa alternatif cara lainnya.
Hal ini berguna untuk memberikan kesempatan pada siswa untuk dapat menjawab dan
memperlihatkan kemampouannya dengan maksimal mengingat tujuan tes yang begitu
penting;
3) Tes
yang diberikan benar – benar bersifat semata – mata untuk menguji tujuan utama
dari pembelajaran.
7.
TES AWAL
Penilaian (Tes awal)memiliki peranan yang cukup penting dalam model desain ini.
Dengan melakukan hal ini kita dapat mengetahui tingkat pengetahuan yajg
dimiliki oleh murid. Mengetahui kondiosi pengetahuan murid sangat membantu kita
dalam mendesain pembelajaran.
Penilaian awal juga dapat membantu untuk mengevisiensikan
pembelajaran. Dengan melakukan tahapan ini kita dapat mengetahui tingkatan
pengetahuan murid. Dengan demikian seorang murid tiodak perlu membuang – buang
waktu untuk mempelajari kembali materi yang telah mereka kuasai. Ada dua hal
yang dapat kita lakukan dalam Pre-Assessment yaitu prerequisite test dan
pretest.
Ò Identifikasi
Pengalaman Siswa
Hal ini dilakukan untuk mengetahui
apakah siswa memiliki pengalaman / ilmu yang terkait dengan materi yang akan
diberikan. Tes ini dapat dilakukan dengan berbagai macam cara seperti menyebar
angket, melihat hasil pekerjaan siswa, mengobservasinya ketika tengah bekerja,
atau dengan wawancara. Dengan melakukan proses ini kita dapat memilah dan
memilih materi apa saja yang tidak perlu disampaikan, disampaikan sebagian
saja, atau bahkan disampaikan mulai dari tingkatan dasar.
Ò Pre-test
Tahapan lainnya dalah pretest.
Pretest dilakukan untuk pemahaman siswa terhadap materi yang akan
diberikan. Untuk beberapa kasus ada yang mendampingkan pretest dengan posttest
dengan demikian kita dapat meihat hasil pembelajaran dengan membandingkan
hasil pretest dan posttest. Keuntungan lainnya adalah hasil posttest
dapat digunakan sebagai prerequisite test untuk materi lain yang
memiliki keterklaitan dengan materi ini.
Dalam pelaksanaannya, pretest tidak
selalu harus dilakukan dengan konsep formal. Misalnya saja kita dapat bertanya
langsung pada siswa di dalam kelas. Kita dapat bertanya berapa banyak di antara
mereka yang telah mengerti dengan materi yang akan diberikan. Jumlah siswa
yanhg mengangkat tangan dapat menjadi data yang sangat berguna bagi kita.
Di lapangan, pretest tidak
terlalu berpengaruh pada pembelajaran tradisional yang masih bersifat masif
karena pembelajaran seperti itu lebih terkesan menyamaratakan kondisi siswa.
Tapi manfaat dari pretest dapat kita ambil ketika kita melakukan
pembelajaran yang bersifat personal.
Manfaat lainnya adalah untuk
mengenalkan siswa pada materi yang akan dia pelajari. Namun, ada yang harus
kita perhatikan ketika kita melakukan pretest, faktanya tidak semua
siswa siap dalam menmghadapi tes seperti itu. Sebelumnya kita harus
memberitahukan bahwa hasil dari tes ini tidak ada sngkut pautnya dengan nilai
yang akan ,mereka peroleh.
8.
KARAKTERISTIK BELAJAR
Ketika mendesain sebuah rencana pembelajaran, kita mesti
cepat memutuskan karakteristik dari siswa karena dengan mengetahui
karakteristik tersebut sangat membantu dalam membuat perencanaan pembelajaran.
Faktor-faktor yang mesti diperhatikan dalam membantu menentukan karakteristik
siswa yaitu:
Faktor akademi,antara lain jumlah siswa, latar belakang
akademi/ pendidikan, rata-rata nilai, tingkat kepintaran, tingkatan membaca,
prestasi dan tes kemampuan, adat kebiasaan, kemampuan untuk bekerja sendiri,
latar belakang pelajaran atau topik, motivasi untuk belajar, harapan-harapan
belajar, dan aspirasi kebudayaan. Sedangkan faktor sosial, antara lain umur,
tingkat kematangan, bakat spesial, emosi dan kejiwaan, hubungan antar pelajar.
Informasi-informasi dari kandungan faktor-faktor di atas
dapat diperoleh dari kumpulan catatan siswa dan dari konsultasi dengan
guru-guru, bimbingan konseling, dan lain-lain. Hasil dari daftar informasi
tersebut, sebaiknya ditambah dengan survai perilaku dan tes awal.
Adapun faktor lain seperti kondisi dan gaya
belajar juga mesti dicatat dan diperhatikan pada saat perencanaan agar
ciri-ciri pelajar yang diidentifikasi dapat lebih sempurna.
KELEBIHAN DAN KEKURANGAN
Setiap model pembelajaran pastilah
mempunyai kelebihan dan kekurangan. Begitu juga model pembelajaran yang
dikemukakan oleh Kemp ini. Adapun keunggulan dari pengembangan model Kemp ini
adalah:
1. Adanya konsep bahwa proses perancangan
dan pengembangan dapat dimulai dari mana saja.
2. Adanya penekanan pada materi, tujuan,
dan kegunaan, serta pemilihan dan sumber belajar
Sementara kelemahan utamanya terletak
pada tiada kejelasan tentang apa yang perlu dilakukan berhubungan dengan
penentuan aktivitas belajar mengajar, serta pemilihan dan pemakaian
sumber-sumber belajarnya.
BAB
III
SIMPULAN
Menurut Kemp pengembangan perangkat merupakan suatu lingkaran
yang kontinum. Tiap-tiap langkah pengembangan berhubungan langsung dengan
aktivitas revisi. Pengembangan perangkat ini dimulai dari titik manapun sesuai
di dalam siklus tersebut.
Pengembangan perangkat model Kemp memberi kesempatan kepada
para pengembang untuk dapat memulai dari komponen manapun. Namun karena
kurikulum yang berlaku secara nasional di Indonesia dan berorientasi pada
tujuan, maka seyogyanya proses pengembangan itu dimulai dari tujuan.
Model pengembangan sistem pembelajaran ini memuat
pengembangan perangkat pembelajaran. Terdapat delapan unsur rencana perancangan pembelajaran. Kesepuluh unsur
tersebut adalah:
1. Tujuan khusus belajar
2.
Analisis tes mata pelajaran
3.
Aktivitas belajar
4.
Sumber belajar
5.
Layanan pendukung
6.
Evaluasi belajar
7.
Tes awal
8.
Karakteristik belajar
[1]Wina Sanjaya, Perencanaan Dan Desain Sistem Pembelajaran.
(Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2012) Hal 72.
[2]Santi Maudiarti, Buku Kerja Prinsip Disain Pembelajaran:
Instructional Design Principles. (Jakarta: Kencana Prenada Media Group,2009)
Hal 79.
[3] Trianto, Model Pembelajaran Terpadu. (Jakarta: Bumi Aksara,
2010) Hal 82.
[4]Mimin Haryati,Model & Teknik Penilaian Pada Tingkat Satuan
Pendidikan. (Jakarta: Gaung Persada Press, 2010). Hal 23.
[5]Abdul Majid, Perencanaan Pembelajaran: Mengembangkan Standar
Kompetensi Guru. (Bandung, PT Remaja Rosda Karya,2011) Hal 171.
[6]Hartati Sukirman, dkk, Administrasi Dan Supervisi Pendidikan.
(Yogyakarta: UNY Press) Hal.28.
[7]Anas Sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan. (Jakarta: Rajawali
Press, 2011) Hal 2.