Kamis, 25 Oktober 2012

DESAIN PEMBELAJARAN J.E.KEMP


BAB I
PENDAHULUAN
Pengembangan perangkat pembelajaran adalah serangkaian proses atau kegiatan yang dilakukan untuk menghasilkan suatu perangkat pembelajaran berdasarkan teori pengembangan yang telah ada.
Suatu produk atau program dikatakan valid apabila ia merefleksikan jiwa pengetahuan (state-of-the-art knowledge). Ini yang kita sebut sebagai validitas isi; sementara itu komponen-komponen produk tersebut harus konsisten satu sama lain (validitas konstruk). Selanjutnya suatu produk dikatakan praktikal apabila produk tersebut menganggap bahwa ia dapat digunakan (usable). Kemudian suatu produk dikatakan efektif apabila ia memberikan hasil sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan oleh pengembang.




















BAB II
PEMBAHASAN
Model desain sistem instruksional yang dikembangkan oleh Kemp merupakan model yang membentuk siklus. Menurut Kemp pengembangan desain sistem pembelajaran terdiri atas komponen-komponen yang di kembangkan sesuai dengan kebutuhan, tujuan, dan berbagai kendala yang timbul.



Model sistem instruksional yang dikembangkan Kemp ini tidak ditentukan dari komponen mana seharusnya guru memulai proses pengembangan. Mengembangkan sistem instruksional, menurut Kemp dari mana saja bisa, asal saja urutan komponen tidak berubah, dan setiap komponen itu memerlukan revisi untuk mencapai hasil yang maksimal. Oleh karena itu model Kemp dilihat dari kerangka sistem merupakan model yang sangat luwes.[1]Di sisi lain, proses belajar juga menyangkut ragam pengetahuan, kemampuan antar pribadi, dan sikap. [2]Pengembangan seperangkat model Kemp memberi kesempatan kepada para pengembang untuk dapat memulai komponen manapun. Namun karena kurikulum yang berlaku secara Nasional di Indonesia dan berorientasi pada tujuan, maka seyogyanya proses pengembangan itu dimulai dari tujuan.[3]
Komponen-komponen dalam suatu desain instruksional menurut Kemp adalah:

1.      TUJUAN KHUSUS BELAJAR
Tujuan di perlukan agar hasil perencanaan nantinya dapat mengembangkan kompetensi yang akan menolong pelajar agar dapat bepartisipasi dalam lingkungan masyarakat, selain itu, tujuan mesti mengenal perubahan dalam kebutuhan pelajar dan keterkaitannya dengan apa yang seharusnya diberikan pada siswa.
Semua program pembelajaran hendaknya didasarkan pada pengembangan tujuan dan tujuan-tujuan itu dapat diambil dari tiga sumber yaitu masyarakat, pelajar itu sendiri, dan kawasan pembelajaran.Sebenarnya, tujuan-tujuan itu terdiri atas filsafat dan dari pertimbangan etika serta tuntutan dari masyarakat yang menghendaki hasil(out put) pembelajaran tersebut.
Sebuah perencanaan mesti menentukan topik utama.Topik tersebut akan menjadi cakupan program pembelajaran yang dibuat.Topik biasanya disusun secara logis, paling simpel, dan konkret sehingga orang dapat lansung melihat gambaran dari rencana program pembelajaran tersebutTopik dapat disusun berdasarkan pengalaman yang didapat atau pemikiran yang menjadi dasar sesuatu yang akan dibuat.
Ketika tim pembelajaran untuk kali pertama menentukan tujuan umum, banyak dari mereka yang menggunakan istilah-istilah penting sebagai penunjang atau penggambaran topik agar dapat memahami dengan benar keluaran(output) dari rancangan pembelajaran.
Semua tujuan belajar diwujudkan sebagai syarat yang akan meningkatkan aktivitas pembelajaran.Dengan menciptakan tujuan-tujuan yang pasti, kita dapat mengetahui dengan jelas apa yang ingin kita ajarkan dan kemudian dapat memutuskan apa-apa saja yang telah dicapai.
Menentukan tujuan merupakan sebuah aktivitas yang bersifat pengembangan yang meminta ketelitian, perubahan, dan penambahan. Bagi sebagian guru, tujuan dapat menjadi jelas setelah pelajaran dibuat garis besarnya.
Kategori dari tujuan pembelajaran dapat dikelompokkan mejadi tiga bagian yaitu:
1)      Kognitif, merupakan kategori yang memberikan perhatian yang lebih dalam program pendidikan. S.Bloom.dkk, sebuah taksonomi bagi kognitif. Dalam hal ini, dia (kognitif) dimulai dari pengetahuan sederhana sampai tingkat tertinggi yaitu mengetahui, memahami, menerapkan, menganalisis, mensintesis, dan mengevaluasi. Tujuan aspek kognitif berorientasi pada kemampuan berfikir yang mencakup kemampuan intelektual yang lebih sederhana, yaitu mengingat, sampai pada kemampuan memecahkan masalah yang menuntut siswa untuk menghubungkan dan menggabungkan beberapa ide, gagasan, metode atau prosedur yang dipelajari untuk memecahkan masalah tersebut.[4]
2)      Kriteria yang kedua adalah psikomotor.Ini adalah kemampuan dalam menggunakan dan mengkoordinasi otot rangka dalam aktivitas fisik dan melakukan sesuatu. Psikomotor ini meliputi pergerakan tubuh yang kasar, pergerakan halus dikoordinasi, komunikasi non-lisan, dan tingkah laku berbicara.
3)      Kategori yang ketiga adalah afektif.Ini meliputi sikap, penilaian atau penghargaan, nilai-nilai dan emosi seseorang.David R.Krathwohl.dkk membagi afektif dalam lima tingkatan, yaitu:
a)      Penerimaan, keinginan untuk memberikan perhatian pada sebuah aktivitas;
b)      Menanggapi, keinginan untuk mereaksi sesuatu;
c)      Penilaian, keinginan untuk menerima sesuatu melalui sikap yang positif;
d)     Pengorganisasian, ketika menemukan situasi yang memiliki lebih dari satu penerapan, keinginan untuk mengorganisasi nilai dapat digunakan;
e)      Penggambaran sebuah nilai yang kompleks.

2.      ANALISIS TES MATA PELAJARAN
Setelah mengidentifikasi tujuan pembelajaran, maka akan ditentukan apa tipe belajar yang dibutuhkan siswa. Tujuan yang dianalisis untuk mengidentifikasi keterampilan yang lebih khusus lagi yang harus dipelajari. Analisis ini akan menghasilkan carta atau diagram tentang keterampilan-keterampilan/ konsep dan menunjukkan keterkaitan antara keterampilan konsep tersebut.

3.      AKTIVITAS BELAJAR
Tahapan ke empat dari model pembelajaran Kemp membicarakan tentang aktifitas belajar – mengajar. Pada tahapan ini dijelaskan tentang bentuk – bentuk dari kegiatan bejalar yang efektif.Dalam melakukan proses pembelajaran hendaknya kita memilih alternatif kegiatan yang paling efektif dan sesuai dengan keadaan siswa. Namun demikian sebenarnya tidak ada rumus yang baku untuk mensinkronkan alternatif jenis kegiatan pembelajaran dengan kebuituhan dan kodisi siswa. Namun kita masih dapat menentukan jenis alternatif pembelajaran dengan cara menganalisis setiap kelebihan dan kekurangannya lalu disinkronkan dengan keadaan siswa.
Umumnya para guru dapat mendesain pembelajaran dengan bantuan buku manual. Namun hal itu hanya terbatas pada pembelajaran yang bersifat tradisional saja. Padahal ilmu pendidikan senantiasa berkembang dan terus mengeluarkan produk – produk baru yang lebih canggih lagi. Dari sinilah masalah muncul, karena para guru tidak menguasai produk – produk baru tersebut. Di sinilah peran seorang pendesain diperlukan.
Bentuk Pembelajaran
Dalam perkembangan selanjutnya ada tiga alternatif pembelajaran yang memiliki kelebihan jika dibanding dengan alternatif lainnya. Tiga alternatif itu adalah presentasi group presentation, individualized learning, dan interaction between teacher and student.
Ada beberapa alasan yang mendasari ketiga alternatif pembelajaran di atas. Bentuk pembelajaran di atas dilinai lebih efisien dan efektif karena dengan melakukan presentasi proses penyampaian informasi lebih bersifat massif. Selain itu setiap siswa memiliki kondisi percepatan pemahan yang berbeda dalam memahami suatu materi.
a)   Group Presentation
Pada kegiatan ini guru atau siswa melakukan sebuah presentasi untuk menyampaikan sebuah materi. Kegiatan seperti ini harus ditunjang oleh tempat yang memadai seperti di dalam kelas atau aula. Dalam pelaksanaannya penyaji dapat menggunakan alat bantu untuk menyampaikan presentasinya alat iotu dapat berupa media audio, visual, atau audio visual.
Ada tiga karakter manusia yang akan ditunjukkan oleh siswa dalam kegiatan ini. Karakter pertama adalah siswa yang aktif berinteraksi. Siswa akan aktif dalam kegiatan diskusi, ia akan berpendapat, bahkan tetap berkonsultasi dengan penyaji setelah kegiatannya selesai. Tipe kedua adalah siswa yang hanya bekerja di tempat duduknya. Dan karakter ketiga adalah siswa yang bersifat kritis pada setiap materi yang disampaikan oleh penyaji dan biasanya keikutsertaannya lebih cenderung ke arah banyak bertanya.
b)     Individualized Learning
Yang melatar belakangi konsep ini adalah bahwa setiap orang memiliki tingkat kecerdasan dan percepatan pemahaman yang berbeda. Selain itu setiap siswa juga memiliki pola pikir dan cara belajar yang berbeda. Untuk itu, guru harus dapat mendesain jenis pembelajaran yang sesuai dengan keadaan dan karakteristik yang dimiliki oleh siswa. Istilah lain untuk bentuk pembelajaran seperti ini adalah self instruction, independent study, individualized prescribed instruction, dan self directed atau self-paced learning.
c)      Interaction between Teacher and Students
Format pembelajaran seperti ini adalah pembentukan kelompok – kelompok kecil. Dalam kelompok itu guru dan siswa melakukan diskusi dan saling bertukar pikiran sehingga dapat terjadi proses mengambiol pelajaran dari peserta lainnya dengan metode ini juga setiap peserta akan dapat saling memahami karakter satu sama lain.
Agar memperoleh hasil yang maksimal, maka anggota kelompok ini harus dibatasi. Kelompok ini terdiri dari tujuh sampai 12 orang. Ada beberapa kelebihan yang dapat diambil dari model ini. Dengan model ini para peserta akan terlatih dalam kemampuan mendengar dan berbicara. Hal ini terlatih ketika mereka tengah menyampaikan pendapat. Selain itu, bentuk ini juga melatih kepemimpinan.

4.      SUMBER BELAJAR
Hal penting yang tidak boleh kita lupakan adalah media sumber belajar. Hendaknya kita memilih media yang cocok dengan kondisi dan materi yang akan diberikan. Media yang baik dapat memotifasi siswa dan dapat menjelaskan materi secara efektif serta mengilustrasikan isi materi. Media yang digunakan dapat bermacam – macam. Media yang digunakan dapat berupa media cetak, media audio, media visual, dan media audio visual yang terpenting media itu dapat menunjang kegiatan personal maupun kelompok.
Sumber belajar akan menjadi bermakna bagi peserta didik maupun guru apabila sumber belajar di organisir melalui satu rancangan yang memungkinkan seseorang dapat memanfaatkannya sebagai sumber belajar. Jika tidak, maka tempat atau lingkungan alam sekitar, benda, orang, dan atau buku hanya sekedar tempat, benda, orang atau buku yangtidak berarti apa-apa.
Sumber belajar harus dipergunakan secara efektif sehingga melakukan kontak pada pelajar secara tepat. Untuk memperoleh kegiatan seperti itu, personalia yang terlibat didalamnya harus melakukan fungsinya. Fungsi tidak sama dengan pekerjaan (job), tetapi lebih cenderung mengandung aryi pengelompokan tugas-tugas atau kegiatan. Beberapa pekerjaan mungkin terdiri dari tugas-tugas, dan tugas-tugas ini berada dalam lingkungan fungsi.[5]

5.      LAYANAN PENDUKUNG
Selanjutnya kita memerlukan layanan pendukung yang dapat menunjang program pembelajaran. Hal itu diantaranya adalah biaya, fasilitas, peralatan, waktu dan jadwal, serta kordinasi dengan aktifitas lainnya
a.      Biaya
Dana merupakan hal yang amat krusial dalam pengembangan pendidikan. Semua program baru yang akan dipakai tentunya memerlukan dana untuk memulainya. Sekolah yang ingin mengembangkan program pendidikannya misalnya saja dengan membuat inovasi baru, penelitian, dan pengembangan memerlukan biaya untuk menjalankannya. Pemanfaatan biaya dilakukan ketika masa pengembangan dan selama pemakaian peralatan.
b.      Fasilitas
Fasilitas pendidikan merupakan sarana penunjang bagi proses belajar-mengajar, menurut rumusan Tim Penyusun Pedoman Pembakuan Media Pendidikan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan yang dimaksud dengan sarana pendidikan adalah semua fasilitas yang diperlukan dalam proses belajar mengajar baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak agar pencapaian tujuan pendidikan berjalan lancar, teratur, efektif dan efisien.[6]
Proses pembelajaran tentunya membutuhkan fasilitas yang memadai untuk keberlangsungannya. Berikut adalah kegiatan beserta fasilitas yang dibutuhkannya.Dalam kegiatan presentasi, kita membutuhkan proyektor audio visual, sound sistem, dan perlengkapan lainnya.
Tempat pembelajaran mandiri. Merupakan sebuah tempat yang diperuntukkan untuk para siswa dalam melakukan proses pembelajaran mandiri. Sedangkan ruangan untuk kegiatan belajar kelompok didesain dengan furniture yang tidak formal kemudian dilengkapi dengan proyektor audio visual, dan papan display misalnya papan tulis.
Ruang peralatan. Ruang ini digunakan untuk menyimpan barang – barang yang akan digunakan dalam proses pembelajaran. Dari ruang ini pula dikordinirnya setiap peralatan yang digunakan untuk membantu proses pembelajaran.
c.       Peralatan
Dalam menjalankan program yang telah dijalankan tentunya kita memerlukan beberapa peralatan untuk menunjang kegiatan tersebut. Dalam mendesain sebuah program kita harus memastikan bahwa kita memiliki atau setidaknya dapat mengusahakan peralatan yang akan kita pakai. Karena ketidak tersediaan alat bisa sangat mempengaruhi program yang akan dijalankan.
Selain itu kita harus mencari informasi sebanyak – banyaknya tentang alat yang akan kita gunakan dari orang yang kompeten di bidang itu. Kita harus mencari tahu informasi tentang peralatan yang akan kita gunakan dengan demikian kita dapat memilih barang yang tepat. Peralatan yang kita pilih sebaiknya peralatan yang mudah dipergunakan dan memiliki resiko yang kecil.
Hal penting lainnya adalah kita tetap membutuhkan orang – orang yang kompeten dengan peralatan itu. Selain itu kita jangan terjebak dengan barang – barang yang canggih, namun sebenarnya kita tidak memerlukan kecanggihannya agar kita tidak terjebak pada mubazir.
d.      Waktu dan Jadwal
Dalam menentukan program hendaknya kita memperhatikan jadwal dan wakti yang tepat. Jangan sampai waktu yang kita tentukan bentrok dengan kegiatan lainnya. Selain itu kita juga harus memperhatikan jangan sampai waktu yang kita pilih ternyata bentrok dengan pprogram lain yang ternyata belum selesai.
e.       Kordinasi dengan Aktivitas Lainnya
Kita pun harus mengkordinasikan program yang kita buat dengan pihak-pihak lainnya. Misalnya saja untuk masalah perizinan. Terutama sekali jika siswa yang menjadi bagian dari program kita adalah siswa yang masih membutuhkan bimbingan orang tuanya. Kita harus mengkomunikasikan kegiatan ioni dengan orang tua. Bahkan jika perlu kita undang orang tuanya untuk hadir dan mengawasi program yang telah kita rencanakan.

6.      EVALUASI BELAJAR
Evaluasi belajar (pendidikan) merupakan proses atau kegiatan untuk menentukan kemajuan pendidikan di bandingkan dengan tujuan yang telah di tentukan, dan sekaligus usaha untuk memperoleh informasi berupa umpan balik (feed back) bagi penyempurnaan pendidikan.adapun dalam proses penilaian dilakukan pembandingan antara informasi-informasi yang telah berhasil dihimpun dengan kriteria tertentu, untuk kemudian di ambil keputusan atau dirumuskan kebijaksanaan tertentu.[7]
Evaluasi harus sejalan dengan tujuan awal pembelajaran. Selanjutnya tujuan awal pembelajaran akan berperan sebagai acuan dari evaluasi. Proses evaluasi ini berfungsi untuk mengukur hasil outcome dari pembelajaran yang telah dilakukan. Selain itu proses evalusi juga berfungsi untuk mengukur tingkat keberhasilan program pembelajaranyang telah didesain. Dari proses evaluasi ini kita dapat melihat perbandingan siswa yang lulus dan tidak lulus. Jika perbandingan siswa yang lulus lebih banyak dibandingkan siswa yang tidak lulus maka pembelajaran ini dianggap berhasil.
Ada beberapa bentuk tes yang dapat digunakan untuk proses evaluasi. Salah satunya adalah tes dengan format pilihan ganda. Tes dengan bentuk seperti ini bisa diterapkan pada siswa dalam berbagai tingkatan pemahaman baik yang pemahamannya sudah maksimal maupun belum.
Selain itu ada juga tes yang berbentuk essay. Tes seperti ini dipakai untuk menguji tingkat pemahaman siswa akan materi yang dipelajarinya. Dengan bentuk seperti ini siswa dapat lebih mengapresiasikan pemahamannya dengan lebih leluasa. Dengan metode seperti ini siswa dapat mengorganisir, menghubungkan dan mengintegrasikan setiap materi yang telah dipelajarinya.
Ada beberapa karakteristik dari tes yang harus diperhatikan yaitu,
1)      Tes benar – benar ditujukan untuk mengevaluasi tujuan pembelajaran. Namun dalam beberapa hal, tes juga dapat digunakan untuk mengetes sub tujuan dari pembelajaran;
2)      Tujuan pembelajaran yang merupakan tujuan utama dari pembelajaran hendaknya tidak dites denga denga satu cara tapi dites dengan beberapa alternatif cara lainnya. Hal ini berguna untuk memberikan kesempatan pada siswa untuk dapat menjawab dan memperlihatkan kemampouannya dengan maksimal mengingat tujuan tes yang begitu penting;
3)      Tes yang diberikan benar – benar bersifat semata – mata untuk menguji tujuan utama dari pembelajaran.

7.      TES AWAL
Penilaian (Tes awal)memiliki peranan yang cukup penting dalam model desain ini. Dengan melakukan hal ini kita dapat mengetahui tingkat pengetahuan yajg dimiliki oleh murid. Mengetahui kondiosi pengetahuan murid sangat membantu kita dalam mendesain pembelajaran.
Penilaian awal juga dapat membantu untuk mengevisiensikan pembelajaran. Dengan melakukan tahapan ini kita dapat mengetahui tingkatan pengetahuan murid. Dengan demikian seorang murid tiodak perlu membuang – buang waktu untuk mempelajari kembali materi yang telah mereka kuasai. Ada dua hal yang dapat kita lakukan dalam Pre-Assessment yaitu prerequisite test dan pretest.
Ò Identifikasi Pengalaman Siswa
Hal ini dilakukan untuk mengetahui apakah siswa memiliki pengalaman / ilmu yang terkait dengan materi yang akan diberikan. Tes ini dapat dilakukan dengan berbagai macam cara seperti menyebar angket, melihat hasil pekerjaan siswa, mengobservasinya ketika tengah bekerja, atau dengan wawancara. Dengan melakukan proses ini kita dapat memilah dan memilih materi apa saja yang tidak perlu disampaikan, disampaikan sebagian saja, atau bahkan disampaikan mulai dari tingkatan dasar.
Ò Pre-test
Tahapan lainnya dalah pretest. Pretest dilakukan untuk pemahaman siswa terhadap materi yang akan diberikan. Untuk beberapa kasus ada yang mendampingkan pretest dengan posttest dengan demikian kita dapat meihat hasil pembelajaran dengan membandingkan hasil pretest dan posttest. Keuntungan lainnya adalah hasil posttest dapat digunakan sebagai prerequisite test untuk materi lain yang memiliki keterklaitan dengan materi ini.
Dalam pelaksanaannya, pretest tidak selalu harus dilakukan dengan konsep formal. Misalnya saja kita dapat bertanya langsung pada siswa di dalam kelas. Kita dapat bertanya berapa banyak di antara mereka yang telah mengerti dengan materi yang akan diberikan. Jumlah siswa yanhg mengangkat tangan dapat menjadi data yang sangat berguna bagi kita.
Di lapangan, pretest tidak terlalu berpengaruh pada pembelajaran tradisional yang masih bersifat masif karena pembelajaran seperti itu lebih terkesan menyamaratakan kondisi siswa. Tapi manfaat dari pretest dapat kita ambil ketika kita melakukan pembelajaran yang bersifat personal.
Manfaat lainnya adalah untuk mengenalkan siswa pada materi yang akan dia pelajari. Namun, ada yang harus kita perhatikan ketika kita melakukan pretest, faktanya tidak semua siswa siap dalam menmghadapi tes seperti itu. Sebelumnya kita harus memberitahukan bahwa hasil dari tes ini tidak ada sngkut pautnya dengan nilai yang akan ,mereka peroleh.

8.      KARAKTERISTIK BELAJAR
Ketika mendesain sebuah rencana pembelajaran, kita mesti cepat memutuskan karakteristik dari siswa karena dengan mengetahui karakteristik tersebut sangat membantu dalam membuat perencanaan pembelajaran. Faktor-faktor yang mesti diperhatikan dalam membantu menentukan karakteristik siswa yaitu:
Faktor akademi,antara lain jumlah siswa, latar belakang akademi/ pendidikan, rata-rata nilai, tingkat kepintaran, tingkatan membaca, prestasi dan tes kemampuan, adat kebiasaan, kemampuan untuk bekerja sendiri, latar belakang pelajaran atau topik, motivasi untuk belajar, harapan-harapan belajar, dan aspirasi kebudayaan. Sedangkan faktor sosial, antara lain umur, tingkat kematangan, bakat spesial, emosi dan kejiwaan, hubungan antar pelajar.
Informasi-informasi dari kandungan faktor-faktor di atas dapat diperoleh dari kumpulan catatan siswa dan dari konsultasi dengan guru-guru, bimbingan konseling, dan lain-lain. Hasil dari daftar informasi tersebut, sebaiknya ditambah dengan survai perilaku dan tes awal.
Adapun faktor lain seperti kondisi dan gaya belajar juga mesti dicatat dan diperhatikan pada saat perencanaan agar ciri-ciri pelajar yang diidentifikasi dapat lebih sempurna.

KELEBIHAN DAN KEKURANGAN
Setiap model pembelajaran pastilah mempunyai kelebihan dan kekurangan. Begitu juga model pembelajaran yang dikemukakan oleh Kemp ini. Adapun keunggulan dari pengembangan model Kemp ini adalah:
1.      Adanya konsep bahwa proses perancangan dan pengembangan dapat dimulai dari mana saja.
2.      Adanya penekanan pada materi, tujuan, dan kegunaan, serta pemilihan dan sumber belajar
Sementara kelemahan utamanya terletak pada tiada kejelasan tentang apa yang perlu dilakukan berhubungan dengan penentuan aktivitas belajar mengajar, serta pemilihan dan pemakaian sumber-sumber belajarnya.







BAB III
SIMPULAN
Menurut Kemp pengembangan perangkat merupakan suatu lingkaran yang kontinum. Tiap-tiap langkah pengembangan berhubungan langsung dengan aktivitas revisi. Pengembangan perangkat ini dimulai dari titik manapun sesuai di dalam siklus tersebut.
Pengembangan perangkat model Kemp memberi kesempatan kepada para pengembang untuk dapat memulai dari komponen manapun. Namun karena kurikulum yang berlaku secara nasional di Indonesia dan berorientasi pada tujuan, maka seyogyanya proses pengembangan itu dimulai dari tujuan.
Model pengembangan sistem pembelajaran ini memuat pengembangan perangkat pembelajaran. Terdapat delapan unsur rencana perancangan pembelajaran. Kesepuluh unsur tersebut adalah:
1.      Tujuan khusus belajar
2.      Analisis tes mata pelajaran
3.      Aktivitas belajar
4.      Sumber belajar
5.      Layanan pendukung
6.      Evaluasi belajar
7.      Tes awal
8.      Karakteristik belajar


[1]Wina Sanjaya, Perencanaan Dan Desain Sistem Pembelajaran. (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2012) Hal 72.
[2]Santi Maudiarti, Buku Kerja Prinsip Disain Pembelajaran: Instructional Design Principles. (Jakarta: Kencana Prenada Media Group,2009) Hal 79.
[3] Trianto, Model Pembelajaran Terpadu. (Jakarta: Bumi Aksara, 2010) Hal 82.
[4]Mimin Haryati,Model & Teknik Penilaian Pada Tingkat Satuan Pendidikan. (Jakarta: Gaung Persada Press, 2010). Hal 23.
[5]Abdul Majid, Perencanaan Pembelajaran: Mengembangkan Standar Kompetensi Guru. (Bandung, PT Remaja Rosda Karya,2011) Hal 171.
[6]Hartati Sukirman, dkk, Administrasi Dan Supervisi Pendidikan. (Yogyakarta: UNY Press) Hal.28.
[7]Anas Sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan. (Jakarta: Rajawali Press, 2011) Hal 2.