Senin, 23 April 2012

IDEOLOGI PENDIDIKAN


A.   LATAR BELAKANG
“Pendidikan telah mati” sebuah pernyataan retoris yang keluar dari pemikiran posmodernisme yang terkadang hanya dianggap sebagai sejenis intellectual gimmick. Namun, apakah pernyataan “pendidikan telah mati” itu sendiri benar dan sesuai dengan realitas objektif yang ada? Dan penyataan tersebut bukanlah bahasa metafora yang hanya sekedar menjadi bahasa puisi dan sastra. Memang dilihat secara kasat mata ataupun tanpa menilik substansi dari sebuah pendidikan untuk memanusiakan manusia pendidikan utamanya pendidikan formal akan terasa biasa-biasa saja dan tanpa masalah yang membelitnya. Tetapi jika kita benar-benar bisa melihat secara tajam realitas yang ada sekarang ini mungkin adagium “pendidikan telah mati” merupakan sesuatu yang benar adanya.
Hal ini tentunya tak akan lepas dari kondisi moralitas bangsa kita yang semakin jauh dari nilai-nilai transenden. Dimana dekadensi moral yang sangat luar biasa telah menghantui struktur masyaakat kita. dimulai dari kenakalan remaja yang semakin tejebak dalam pergaulan bebas, free sex, korupsi oleh pejabat Negara, pertikaian antar etnis yang masih saja mengedepankan sikap primordialnya, dan lain sebagainya. Tentunya, semua dekadensi moral tersebut tak akan lepas dari peranan pendidikan sebagai pilar untuk menciptakan sebuah peradaban. Belum lagi terkooptasinya pendidikan dengan system ekonomi kapitalisme yang mau tidak mau pendidikan justru menghamba dengan pasar. Sebagaimana dikatan Prof. Bambang Sugiharto "institusi pendidikan hari ini berkecenderungan kuat sekedar menjadi lembaga ekonomi yang menjual pengetahuan sebagai komoditas, atau mereduksi diri menjadi semacam balai latihan 'pertukangan' belaka,yang memang melahirkan tukang yang ahli namun tanpa visi, terampil namun tanpa ruh dan isi..."[1]
Pendidikan merupakan sebuah aspek fundamental dalam membangun sebuah peradaban. Tanpa adanya determinasi pendidikan dalam ranah superstruktur tentunya yang terjadi hanyalah dehumanisasi. Manusia tidak menjadi bermoral namun justru dengan rasio yang dimilikinya hanya untuk mengebiri hak-hak orang lain. Secara umum memang pendidikan merupakan sebuah proses untuk ‘memanusiakan’ manusia. Tentunya bukan hanya menjadikan manusia pintar semata namun juga memanusiakan dalam artian membuat manusia memiliki integritas sehingga tercipta suatu sinergi kebijaksanaan. Adalah sebuah percuma ketika pendidikan hanya menghasilkan sumber daya manusia yang dengan kepintaran rasionya justru mengeksploitasi manusia lain.
Pendidikan merupakan proses tanpa akhir yang diupayakan oleh siapapun, terutama (sebagai tanggung jawab) Negara. Sebagai sebuah upaya untuk meningkatkan kesadaran dan ilmu pengetahuan, pendidikan telah ada seiring dengan adanya manusia. Dalam hal inilah, letak pendidikan dalam masyarakat sebenarnya mengikuti perkembangan sejarah manusia. Tak mengherankan jika R.S. Peters dalam bukunya The Philosophy of Education manandaskan bahwa pada hakikatnya pendidikan tidak mengenal proses akhir karena kualitas kehidupan manusia terus meningkat.[2]
 Namun apakah pendidikan itu bebas nilai? Tentu tidak, karena memang pendidikan juga merupakan sebuah ajang perebutan kekuasaan. Ideologi-ideologi sealalu ‘bermain’ dibawah permukaan untuk saling menancapkan hegemoninya. Yang pasti, ideologi-ideologi tersebut merupakan representasi dari kepentingan rezim penguasa.  Pendidikan yang selalu dibawah bayang-bayang ideology penguasa kemudian menjelma menjadi jalur paling efektif untuk melanggengkan status quo. Hal ini memang bersifat laten karena secara tidak sadar sebenarnya pendidikan yang seolah-olah netral ternyata didalamnya terdapat suatu pergumulan ideology dan politik. Ivan illich dan Paulo freire merupakan tokoh yang menyadarkan banyak orang bahwa pendidikan yang selama ini hampir dianggap sakral, penuh kebajikan tersebut ternyata mengandung penindasan.[3]
Dalam kehidupan sosio-kultur maupun sosio-politik di Indonesia juga tak dapat lepas dari cengkeraman ideologi penguasa. Terutama dalam ranah pendidikan, pendidikan nasional sudah menjadi semacam komoditas politik dari kepentingan tertentu. Bukan mustahil ketika tujuan pendidikan mengambang dan tak jelas juntrungnya. Bahkan tujuan pendidikan akan semakin kabur ketika intervensi penguasa kelewat dominan. Pendidikan pun akhirnya tidak sesuai dengan koridornya yang mulia untuk membangun mentalitas maupun karakter bangsa. Pendidikan justru muncul sebagai agen kepentingan politik semata.
Dalam hal ini pendidikan memang sarat akan muatan ideologis dan politis, terutama berbicara tentang ideology tak akan pula lepas dari keterkaitan dengan superstruktur lain seperti ekonomi. Tentunya, ketika membicarakan pendidikan secara makro tak akan lepas dari dimensi superstruktur lain seperti ekonomi –yang menempati basis supersruktur­­­-, politik, budaya, ideology, agama, dan sebagainya. Berkembang atau tidaknya sebuah pendidikan tentunya tak dapat dilepaskan dari determinasi dimensi superstruktur lain. Menurut Karl Marx, kehidupan sosial memang terbangaun oleh determinasi supertsruktur dan ekonomi menempati basisnya.[4] Jadi Marx dan filsafat materialisme-dialektikanya menyatakan bahwa sepanjang sejarah manusia hidup dibawah material yang nyata dalam rangka melakukan aktualisasi kebutuhan ekonomi. 
Maka dari itu tulisan ini mencoba menelusuri jaringan ideology yang sudah mengakar dalam system pendidikan kita. Makalah ini membatasi uraiannya hanya pada pelbagai paradigma atau ideologi pendidikan dan bagaimana pengaruhnya pada perkembangan kurikulum yang digagasnya. Itupun terfokus hanya pada sistem pemikiran yang berkembang di Barat serta dengan paradigm alternative yaitu Islam sebagai sebuah system yang holistik. Di sini penulis membagi pembahasan pada dua konteks pemetaan pemikiran yang menurut hemat penulis, baik langsung maupun tidak, terjadi “saling sapa” antara satu dengan lainnya dalam pengembangan kurikulum dan pembelajaran yang pernah ada. Pemetaan dalam konteks studi mengadapsi paradigmanya Henry Giroux & Aronowitz yang secara lebih sederhana mengkatagorikan dalam: konservatif, liberal dan kritis.[5] Namun dalam konteks diskusi tulisan ini hanya akan dibahas terkait dengan paradigma liberal, konservatif serta paradigma Islam sebagai solusi. Tulisan ini dimaksudkan untuk mendeskripsikan pelbagai sistem pemikiran pendidikan yang melatarbelakangi lahir dan berkembangnya keanekaan kurikulum. Asumsinya, tiada sesuatu yang hadir dari ruang hampa. Demikian juga gagasan dan desain kurikulum. Tiada yang berkembang kecuali ada sistem pemikiran yang melahirkannya. Sistem pemikiran ini, biasanya, disebut dengan paradigma dan bahkan ideologi, yang pada mulanya berakar dari refleksi filosofis khususnya tentang hakikat manusia (sebagai individu maupun kelompok), dan kemudian mewujud dalam konsepsi tentang manusia dari pelbagai perspektifnya.[6]
B.   PEMBAHASAN
            Selama ini mungkin sering terjadi kekaburan makna antara kata yang secara substansial hampir sama. Seperti “ideologi pendidikan” dengan “filosofi pendidikan”, menurut William O’neil, ada semacam kedekatan arti atau bisa dibilang kesamaan pengertian antara keduanya. Kedua istilah tersebut merujuk pada suatu aspek pembahasan, yaitu mengkaji pendidikan secara fundamental melalui tingkatan abstraksi yang jauh lebih tinggi. Oleh karena itu, tingkatan tersebut kemudian lebih berdekatan dengan pengertian filsafat pendidikan.[7]
            Dalam konteks pembahasan ini akan penulis bagi sesuai dengan perspektif Henry Giroux dimana menurutnya terdapat tiga paradigm utama dalam pendidikan yaitu konservatif, liberal dan kritis. Namun dengan alasan tertentu, yang akan menjadi pokok pembahasan hanya paradigma liberal serta kritis dan ditambah paradigma Islam sebagai alternative solusinya.

1.    Paradigma Liberal

Berangkat dari keyakinan bahwa memang ada masalah di masyarakat, tetapi bagi mereka pendidikan tidak ada kaitannya dengan persoalan politik-ekonomi masyarakat. Dengan keyakinan seperti itu tugas pendidikan juga tidak ada sangkut pautnya dengan persoalan politik-ekonomi. Sungguhpun demikian, kaum liberal selalu berusaha untuk menyesuaikan pendidikan dengan keadaan ekonomi-politik di masyarakat dengan jalan memecahkan berbagai permasalahan pendidikan melalui usaha reformasi yang bersifat “facial” atau “kosmetik”.

Umumnya yang dilakukan adalah seperti perlunya membangun kelas dan fasilitas baru, memodernkan peralatan sekolah dengan pengadaan komputer, multimedia, dan laboratorium yang lebih canggih, serta berbagai usaha untuk menyehatkan rasio murid-guru. Selain itu, juga berbagai investasi untuk meningkatkan metodologi pengajaran/pelatihan yang lebih efisien dan partisipatif, seperti kelompok dinamik ‘learning by doing”, experimental learning, active learning, dan sebagainya. Namun usaha peningkatan tersebut tetap terisolasi dalam sistem dan struktur ketidakadilan kelas maupun gender, dominasi budaya dan represi politik yang ada di dalam masyarakat.

Pendekatan liberal inilah yang mendominasi segenap pemikiran tentang pendidikan baik formal maupun non-formal. Akar dari sistem pemikiran ini adalah Liberalisme, yakni suatu pandangan yang menekankan pengembangan kemampuan, melindungi hak dan kebebasan (freedoms), serta mengidentifikasi problem dan upaya perubahan sosial secara inskrimental demi menjaga stabilitas jangka panjang. Konsep pendidikan dalam tradisi liberal ini berakar pada cita-cita Barat tentang individualisme, di mana ide politik liberalisme sejarahnya berkait erat dengan bangkitnya kelas menengah yang diuntungkan oleh kapitalisme.

Jejak Liberalisme dalam pendidikan dapat dianalisa dengan melihat pengaruh filsafat Barat tentang model manusia universal yakni model manusia Amerika dan Eropa. Model ideal mereka adalah manusia ‘rasionalis liberal’, seperti: pertama, bahwa semua manusia memiliki potensi sama dalam intelektual; kedua, baik tatanan alam maupun norma sosial dapat ditangkap oleh akal; dan ketiga adalah “individualis” yakni adanya anggapan bahwa manusia adalah atomistic dan otonom. Menempatkan individu secara atomistic membawa pada keyakinan bahwa hubungan sosial sebagai kebetulan dan masyarakat dianggap tidak stabil karena interest anggotanya yang tidak stabil.

Pengaruh liberalisme ini tampak dalam pendidikan yang mengutamakan prestasi melalui persaingan antar murid. Juga pada pendekatan “andragogy” seperti dalam training managemen dan kewirausahaan. Achievement Motivation Training (AMT) yang diciptakan David McClelland adalah contoh terbaik pendekatan ini. McClelland berpendapat bahwa akar masalah keterbelakangan dunia ketiga adalah karena mereka tidak memiliki apa yang dinamakannya N Ach. Oleh karena itu, syarat pembangunan bagi rakyat dunia ketiga adalah perlunya terjangkiti virus “N Ach” yang mebuat individu agresif dan rasional.[8]

Lain dari itu, paradigma pendidikan liberal juga dipengaruhi oleh positivisme. Positivisme pada dasarnya adalah ilmu sosial yang memahami realitas dengan meminjam pandangan, metode dan teknik ilmu alam dalam memahami benda, yakni dengan kepercayaan adanya universalisme dan generalisasi melalui metode determinasi, fixed law atau kumpulan hukum teori. Positivisme berasumsi bahwa penjelasan tunggal dianggap ‘appropriate untuk semua fenomena. Oleh karena itu mereka percaya bahwa riset sosial ataupun pendidikan harus didekati dengan metode ilmiah yakni obyektif dan bebas nilai. Dengan kata lain, positivisme mensyaratkan adanya pemisahan antara fakta dan values dalam rangka menuju pada pemahaman yang obyektif atas realitas sosial.[9]

2.        Paradigma Kritis

Pendidikan bagi mereka merupakan arena perjuangan politik. Jika bagi kaum konservatif, pendidikan bertujuan untuk menjaga status quo, sementara bagi kaum liberal untuk perubahan moderat, maka paradigma kritis menghendaki perubahan struktur secara fundamental dalam politik-ekonomi masyarakat di mana pendidikan itu berlangsung. Bagi mereka ketidakadilan dan diskriminasi sosial dalam masyarakat tercermin pula dalam dunia pendidikan.

Dalam perspektif kritis, urusan pendidikan adalah melakukan refleksi kritis terhadap the dominant ideology ke arah transformasi sosial. Tugas utama pendidikan adalah menciptakan ruang agar sikap kritis terhadap sistem dan struktur ketidakadilan sosial dapat tumbuh berkembang dan mampu melakukan dekonstruksi serta advokasi menuju sistem sosial yang lebih adil. Pendidikan tidak mungkin bersikap netral, obyektif maupun berjarak dengan masyarakat seperti anjuran positivisme. Dengan kata lain, tugas utama pendidikan adalah memanusiakan kembali manusia yang mengalami dehumanisasi karena sistem dan struktur yang tidak adil.[10]

Tentunya paradigm pendidikan kritis tidak akan lepas dari tokohnya, Paulo Freire. Filsafat Freire bertolak dari kenyataan bahwa di dunia ini ada sebagian manusia yang menderita sedemikian rupa sementara sebagian lainnya menikmati jerih payah orang lain, justru dengan cara-cara yang tidak adil.  Dalam kenyataannya, kelompok manusia yang pertama adalah bagian mayoritas umat manusia, sementara kelompok yang kedua adalah bagian minoritas umat manusia.  Dari segi jumlah ini saja keadaan tersebut sudah memperlihatkan adanya kondisi yang tidak berimbang, yang tidak adil.  Inilah yang disebut oleh Freire sebagai ”situasi penindasan”.
Bagi Freire, penindasan, apapun namanya dan apapun alasannya, adalah tidak manusiawi, sesuatu yang menafikan harkat kemanusiaan (dehumanisasi).  Dehumanisasi ini bersifat mendua, dalam pengertian terjadi atas diri mayoritas kaum tertindas dan juga atas diri minoritas kaum penindas.  Keduanya menyalahi kodrat manusia sejati.  Mayoritas kaum tertindas menjadi tidak manusiawi karena hak-hak asasi mereka dinistakan, karena mereka dibuat tidak berdaya dan dibenamkan dalam “kebudayaan bisu” (submerged in The Culture of Silence).[11] Adapun minoritas kaum penindas menjadi tidak manusiawi karena telah mendustai hakekat keberadaan dan hati nurani sendiri dengan memaksakan penindasan bagi manusia sesamanya.
Karena itu tidak ada pilihan lain, ikhtiar memanusiakan kembali manusia (humanisasi) adalah pilihan mutlak.  Humanisasi adalah satu-satunya pilihan bagi kemanusiaan, karena walaupun dehumanisasi adalah kenyataan yang terjadi sepanjang sejarah peradaban manusia dan tetap merupakan suatu kemungkinan ontologis di masa mendatang, namun ia bukanlah suatu keharusan sejarah.  Secara dialektis, suatu kenyataan tidaklah mesti menjadi suatu keharusan.  Jika kenyataan menjadi suatu keharusan, maka menjadi tugas manusia untuk mengubahnya agar sesuai dengan apa yang seharusnya.  Inilah fitrah manusia sejati (the man’s ontological vocation).
Bagi Freire, fitrah manusia sejati adalah menjadi pelaku atau subyek, bukan penderita atau obyek.  Panggilan manusia sejati adalah menjadi pelaku yang sadar, yang bertindak mengatasi dunia serta realitas yang menindas atau yang mungkin menindasnya.  Dunia dan realitas atau realitas dunia ini bukan “sesuatu yang ada dengan sendirinya”, dan karena itu “harus diterima menurut apa adanya” sebagai suatu takdir atau semacam nasib yang tak terelakkan, semacam mitos.  Manusia harus menggeluti dunia dan realitas dengan penuh sikap kritis dan daya-cipta, dan hal itu berarti atau mengandaikan perlunya sikap orientatif yang merupakan pengembangan bahasa pikiran (thought of language), yakni bahwa pada hakekatnya manusia mampu memahami keberadaan dirinya dan lingkungan dunianya yang dengan bekal pikiran dan tindakan “praxis”-nya ia merubah dunia dan realitas.  Karena itulah manusia berbeda dengan binatang yang hanya digerakkan oleh naluri.  Manusia juga memiliki naluri, tapi juga memiliki kesadaran (consciousness).  Manusia memiliki kepribadian, eksistensi.  Ini tidak berarti manusia tidak memiliki keterbatasan, tetapi dengan fitrah kemanusiaannya seseorang harus mampu mengatasi situasi-situasi batas (limit-situations) yang mengekangnya.  Jika seseorang yang menyerah pasrah pada situasi batas itu, apalagi tanpa ikhtiar dan kesadaran sama sekali, maka sesungguhnya ia tidak manusiawi lagi.  Seseorang yang manusiawi harus menjadi pencipta (the creator) sejarahnya sendiri.  Dan, karena seseorang hidup di dunia dengan orang-orang lain sebagai umat manusia, maka kenyataan “ada bersama” (being together) itu harus dijalani dalam proses “menjadi” (becoming) yang tak pernah selesai.  Ini bukan sekedar adaptasi, tapi integrasi untuk menjadi manusia seutuhnya.
Manusia adalah penguasa atas dirinya, menjadi bebas.  Ini adalah tujuan akhir dari upaya humanisasinya Freire.  Humanisasi, karenanya adalah juga berarti pemerdekaan atau pembebasan manusia dari situasi-situasi batas yang menindas di luar kehendaknya.  Kaum tertindas harus memerdekakan dan membebaskan diri mereka sendiri dari penindasan yang tidak manusiawi sekaligus membebaskan kaum penindas mereka dari penjara hati nurani yang tidak jujur melakukan penindasan.  Jika masih ada perkecualian, maka kemerdekaan dan kebebasan sejati tidak akan pernah tercapai secara penuh dan bermakna.

Memang tujuan pendidikan kritis adalah membebaskan manusia dari segala penindasan dan dehumanisasi. Namun secara kualitatif paradigm ini masih berorientasi pada kemampuan rasio dan nilai-nilai “dari luar” belum terkonsepsi secara integral dalam paradigm ini. Sehingga bukan mustahil walaupun secara material manusia telah bebas dari berbagai eksploitasi namun sebenarnya paradigm ini juga masih kemacetan dalam hal nilai terutama berkaitan dengan etika.

3.    Paradigma Islam

Secara konseptual pendidikan Islam sebenarnya sudah cukup kaya dan sempurna sebab ingin membentuk pribadi muslim sempurna dan mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat, meskipun lebih cenderung normatif.[12] Sebab, dalam realitasnya, praktik pendidikan Islam cenderung ‘idealis’ dan kurang bersentuhan dengan problem realitas-empirik. Hal ini antara lain disebabkan oleh adanya anggapan bahwa segala aktifitas hidup umat Islam, termasuk pendidikan, harus didasarkan pada wahyu yang given dari Tuhan dalam pengertian harfiah sehingga cenderung kurang melihat aspek realitas yang empirik.
Karena itu, wajar jika formulasi tentang konsep pendidikan Islam relatif idealis dan kurang ‘membumi’, kurang bersentuhan dengan problem realitas. Padahal, sosok Nabi sendiri yang dijadikan sebagai model bagi pendidikan Islam jelas-jelas terlibat langsung dalam penyelesaian problem di masyarakat. Selain itu, pendidikan dalam islam adalah non-dikotomis atau tidak memisahkan antara yang duniawi dan ukhrawi atau sekulerisme.
Dalam hal orientasi, pendidikan Islam seharusnya tidak sekedar membentuk kesalehan individual semata, atau kesadaran mistik dalam perspektif Iqbal, namun harus membentuk kesalehan sosial juga. Sebagaimana disinyalir Iqbal pada awal abad ke-20 dan hingga sekarang masih terasa, umat Islam di dunia Timur cenderung mengedepankan kesadaran mistik dan kesalehan individual yang diibaratkan dengan larut dengan tasbih, yang penting selamat di akhirat, sementara problem sekitar tidak begitu dipikirkan. Untuk itu, orientasi pendidikan harus diarahkan untuk membentuk individu muslim yang mempunyai kesadaran kenabian dengan karakter emansipatif, liberatif dan transendental yang mampu membaca problem empirik di sekitarnya sehingga ia mampu terlibat dalam penyelesaian problem. Tetapi, di sisi lain, dia juga mampu menyelesaikan setiap problem yang menimpanya.
Perubahan orientasi perlu segera diimbangi dengan perubahan kurikulum yang akan dibekalkan kepada setiap peserta didik. Sebagaimana dirumuskan oleh al-Attas, bahwa kurikulum pendidikan Islam dikonstruk berdasarkan ajaran al-Qur’an dan al-Sunnah, namun harus didialogkan dengan problem realitas sehingga muatannya dinamis sesuai dengan konteks waktu dan tempat.[13] Dalam pengertian ini, sebenarnya perubahan kurikulum dapat dilakukan kapan saja, tanpa menunggu jangka waktu tertentu. Sebab, ketika problem dan tantangan yang dihadapi oleh masyarakat berbeda dan berubah, maka harus diikuti oleh perubahan kurikulum jika tidak ingin tertinggal dengan perubahan. Kurikulum dalam perspektif pendidikan kritis harus selalu mendialogkan teks dan konteks, antara normatif dan historis. Karena itu, akan selalu ada upaya kontekstualisasi teks sehingga mampu menjawab problem bumi. Dalam pandangan Freire, akan selalu ada proses kodifikasi konteks dan dekodifikasi. Kodifikasi konteks berarti mendialogkan, mendiskusikan dan mencari alternatif pemecahan terhadap problem yang berkembang di masyarakat ke dalam ruang ruang kelas. Hasil rumusan alternatif ini kemudian dibawa ke masyarakat sebagai sebuah tawaran pemecahan. Dengan demikian, ada proses refleksi di ruang kelas dan proses aksi di luar kelas secara terus-menerus. Ketika problem yang ada di masyarakat berkembang, maka perlu ada kodifikasi kembali dan begitu seterusnya.
Hanya saja, sebagaimana disinyalir oleh Rahman, umat Islam harus melihat kandungan teks al-Qur’an dan al-Sunnah secara hermeneutis, dalam arti bahwa perlu ada upaya pencarian tentang ide moral yang terkandung dalam teks al-Qur’an. Ini hanya dapat dilakukan jika umat Islam melakukan kritik sejarah terhadap diturunkannya kitab tersebut. Untuk itu, Rahman menawarkan double movement methodology untuk dapat menangkap ide moral al-Qur’an.[14] Dalam pandangannya, sejak dulu sampai akhir zaman, teks al-Qur’an tetap, namun formulasi untuk pembumiannya dinamis tergantung problem yang berkembang di masyarakat.
Konsepsi tersebut juga harus diimbangi dan dibarengi dengan penyiapan sumber daya manusia yang mampu mengimplementasikan orientasi dan kurikulum itu dalam konteks praxis. Dalam sebuah adagium Arab dikenal al-mudarris ahammu min al-maddah wa al-tariqah. Selain itu kemampuan kognisi haruslah ditunjang dengan dengan sikap (moralitas). Karena tidak dapat dipungkiri seorang yang pintar tapi tak bermoral tentunya tak akan beda dengan orang-orang liberal yang ujung-ujungnya juga akan menghasilkan penindasan.
C.   Penutup
Pendidikan sebagai salah satu pilar kehidupan dan hal yang sangat signifikan dalam ranah superstruktur social merupakan aspek fundamental untuk membangun peradaban. Namun, pendidikan sendiri bukanlah entitas yang bebas nilai terhadap ideology dan kepentingan. Terutama jika pendidikan diletakkan dalam ranah makro, tentu pendidikan tak akan lepas dari konstruksi sosio-politik,maupun sosio-budaya. Sehingga tak jarang dalam implementasinya terutama pendidikan formal akan terlihat bias kepentingan para pemegang kebijakannya yaitu pemerintah sebagai apparatus ideology Negara.
Menurut Andre Chrucky pendidikan adalah “mencetak manusia yang memiliki kemampuan dan kemauan unuk mencoba meraih persetujuan dengan hal-hal yang berkaitan dengan fakta, teori, dan tindakan melalui diskusi rasional”.[15] Jadi pendidikan disini hanya sebatas meningkatkan fungsi rasio semata, dan tidak menempa suatu karakter dan sikap yang sejatinya tidak bisa dilepaskan dengan proses pendidikan. Kenyataan objektif bangsa kita sekarang ini memang cenderung mengadopsi paradigma pendidikan liberal yang lebih berorientasi pada kemampuan afektif semata. Tak pelak gejala pragmatis dan saling jatuh-menjatuhkan sesama menjadi kaidah yang dianut. Banyaknya dekadensi terutama moral mengindikasikan bahwa pendidikan kita masih belum sesuai dengan tujuannya. Dalam konteks ini paradigma Islam merupakan sebuah tawaran alternative, terutama berdasarkan nilai-nilai transcendental yang terintegrasi dengan sains modern. Jadi, meminjam bahasa kuntowijoyo paradigm islam haruslah melakukan objektifikasi terhadap kenyataan empiris yang ada sehingga muatan nilainya dapat diterima secara universal.


     





D.       Daftar Pustaka
Azra , Azyumardi, 1999. Pendidikan Islam Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru. Logos. Jakarta.
Fakih, Mansur dkk. 2001. Pendidikan Populer: Membagun Kesadaran Kritis. Insist. Yogyakarta.
Kuntowijoyo. 1994. Paradigma Islam: Interpretasi untuk Aksi. (Cetakan ke VI). Mizan. Bandung.
Maliki, Zainuddin. 2003. Narasi Agung: Tiga Teori Sosial Hegemonik. Lembaga Pengkajian Agama dan Masyarakat (LPAM). Surabaya.
Mas’ud, Abdurrahman dkk. 2001. Paradigma Pendidikan Islam (ed. Ismail SM dkk.). Pustaka Pelajar: Yogyakarta.
Murtiningsih, Siti, 2004, pendidikan alat perlawanan: teori pendidikan radikal Paulo freire, RESIST Book. Yogyakarta
Nurani soyomukti,2008, teori-teori pendidikan, Ar-ruzz media: Yogyakarta.
O’Neil, William F. 2001. Ideologi-ideologi Pendidikan (terj. Omi Intan Naomi). Pustaka Pelajar, Yogyakarta.
Rakhmat, Jalaluddin. 2001. Psikologi Komunikasi (Cetakan ke-17). PT. Remaja Rosdakarya. Bandung.
Tafsir, Ahmad. 2001. Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam. Remaja Rosdakarya. Bandung.
Wan daud, Wan Mohd Nor, 2003.  Filsafat dan Praktek Pendidikan Islam Syed M. Naquib Al-Attas, MIZAN. Bandung.
Weber, Max. 2000. Etika Protestan dan Semangat Kapitalisme (terj. Yusup Priyasudiarja). Pustaka Promethea. Surabaya.
.





LAMPIRAN
no
aspek
liberal
kritis
islam
1
Tokoh
John Dewey, David Hume, John Locke
Paulo Freire, Ivan Illich, Erich Fromm
Rasulullah Muhammad SAW.
2
karakteristik
Bebas-nilai, Mengambil jarak dengan realitas objektif
Pendidikan dan realitas superstruktural berkaitan.
Non-dikotomis
3
Objek pendidikan
Peserta didik
Ilmu pengetahuan
Ilmu pengetahuan
4
Tujuan
Kebebasan individu, masyarakat terbuka (open society)
Membebaskan manusia dari kungkungan dehumanisasi ideology liberalism (masyarakat sosialis)
Rahmatan lil alamin (dialektika akhlak dan kecerdasan rasio)
5
Muatan nilai
Individualism
Kolektivisme
Dialektika individualism-kolektivisme
6
ontologi
antroposentris
antroposentris
Teo-antroposentris
7
epistemologi
materi
materi
Wahyu




[1] Lih. Alfatri Adlin dalam pengantar buku Dunia yang dilipat: tamasya melampaui batas-batas kebudayaan.
[2] Siti murtiningsih, pendidikan alat perlawanan: teori pendidikan radikal Paulo freire, (Yogyakarta , RESIST Book, 2004), hal. 3.
[3] Mansour fakih, ideology dalam pendidikan, sebuah pengantar buku ideologi-ideologi pendidikan.

[4] Nurani soyomukti, teori-teori pendidikan,(Yogyakarta, Ar-ruzz media),hal. 341.
[5] Aronowitz, S & Giroux, H.A., 1985, Education under Siege, Bergin & Garvey Publisher, Inc., Massachusetts, seperti yang diulas oleh Mansur Fakih dkk. dalam Pendidikan Populer: Membagun Kesadaran Kritis, 2001, Insist, Yogyakarta. Sebenarnya ada pemetaan lain, seperti William F. O’Neil dalam bukunya Eductional Ideologies: Contemporary Expressions of Educational Philosophies, 1981, Goodyear Publishing Company, Santa Monica-California, di Indonesia diterjemahkan dalam judul: Ideologi-ideologi Pendidikan oleh Omi Intan Naomi dan diterbitkan oleh Pustaka Pelajar, Yogyakarta, tahun 2008. Di sini O’neil mengkatagorikan ideologi pendidikan ke dalam dua katagori besar: Konservatif dan Liberal. Ideologi pendidikan konservatif mencakup Fundamentalisme, Intelektualisme, Konservatisme; sedangkan ideologi pendidikan liberal mencakup Liberalisme, Liberasionisme, dan Anarkisme. Di dalam makalah ini, penulis memilih pemetaan Giroux & Aronowitz karena lebih sederhana dan terasa pembedaan paradigmatisnya.
[6] Paradigma dari bahasa Inggris paradigm berarti type of something, model, pattern (bentuk sesuatu, model, pola) [Hornby, 1989:895]. Sedangkan secara terminologis berarti a total view of a problem, a total outlook, not just a problem in isolation [Hills, 1982] lihat: Abdurrahman Mas’ud dkk, 2001, Paradigma Pendidikan Islam, ed. Ismail SM dkk., Pustaka Pelajar, Yogyakarta, halaman viii; Secara sederhana Ahmad Tafsir mengartikan paradigma sebagai cara pandang atau cara berpikir, Lihat: Ahmad Tafsir, 2001, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, Remaja Rosdakarya, Bandung, halaman 6; Kuntowijoyo dengan meminjam “pembacaan” paradigma  dari Thomas S. Kuhn dalam bukunya, The Structure of Scientific Revolutions (oleh penerbit Rosdakarya, Bandung diterjemakan dengan judul Peran Paradigma dalam Revolusi Sains,  1989) juga berpandangan sama, ia menjelaskan bahwa pada dasarnya realitas sosial itu dikonstruksi oleh mode of thought atau mode of inquiry tertentu yang pada gilirannya akan menghasilkan mode of knowing (cara mengetahui) tertentu pula. Imanuel Kant menganggap “cara mengetahui” ini sebagai apa yang disebutnya skema konseptual. Marx menamakannya sebagai ideologi. Dan Wittgenstein melihatnya sebagai cagar bahasa, tilik: Kuntowijoyo, 1994, Paradigma Islam: Interpretasi untuk Aksi, Cetakan ke VI, Mizan, Bandung, halaman 327.
[7] William F O’neil, ideologi-ideologi pendidikan (terj), Yogyakarta, Pustaka Pelajar 2008, hal.xxxi-xxxii.
[8] Asumsi ini dipengaruhi oleh bukunya Max Weber, 1930,  The Protestant Ethic and Spirit of Capitalism, New York (telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh Yusup Priyasudiarja dan diterbitkan dengan judul Etika Protestan dan Semangat Kapitalisme, oleh Pustaka Promethea tahun 2000). McClelland berpendapat bahwa jika protestant ethic mendorong pertumbuhan ekonomi Barat, analog terhadap gejala yang sama harus dicari di lain tempat dalam rangka mencapai pertumbuhan ekonomi. Menurutnya, di balik rahasia etika protestan adalah suatu mentalitas yang disebutnya dengan the need for achievement (N Ach).
[9] Jurgen Habermas, seorang penganut teori kritis melakukan kritik terhadap positivisme dengan menjelaskan berbagai katagori pengetahuan sebagai berikut: 1. Instrumental knowledge atau positivisme dimana tujuan pengetahuan adalah untuk mengontrol, memprediksi, memanipulasi dan eksploitasi terhadap obyeknya; 2. Hermeneutic knowledge atau interpretative knowledge, di mana tugas ilmu pengetahuan hanyalah untuk memahami; dan 3. Critical knowledge atau emancipatory knowledge, yakni suatu pendekatan yang menempatkan ilmu pengetahuan sebagai katalis untuk membebaskan potensi manusia. Dan paradigma pendidikan liberal pada dasarnya sangatlah positivistik. Lihat: F.Budi Hardiman, Kritik Ideologi,(kanisius, Yogyakarta), hal. 5-6.

[10] Mansur Fakih dkk.  Pendidikan Populer,  halaman 22.
[11] Kebudayaan bisu, menurut Freire, adalah “kondisi kultural sekelompok masyarakat yang ciri utamanya adalah ketidakberdayaan dan ketakutan umum untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan sendiri”, sehingga “diam” nyaris dianggap sesuatu yang sakral, sikap yang sopan dan harus ditaati.

[12] Baca kajian Azyumardi Azra tentang literature pendidikan Islam yang ada di Indonesia. Azyumardi Azra, Pendidikan Islam Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru (Jakarta: Logos, 1999).

[13] Wan Mohd Nor Wan Daud, Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib al-Attas, terj. Hamid Fahmy dkk. (Bandung: Mizan, 2003), 266

[14]Fazlur Rahman, Islam dan modernitas, 15

[15] Nurani soyomukti, teori-teori pendidikan,(Yogyakarta, Ar-ruzz media),hal. 192.

paradigma

Memahami Paradigma Pendidikan Melalui Filsafat Pendidikan

Setiap Paradigma  pendidikan tidak bisa terlepas dari akar filosofisnya. Paradigma pendidikan manapun tetap tidak bisa lepas dari aliran filsafat yang menjadi induknya. Karena pendidikan sebagai ilmu merupakan cabang dari filsafat dalam aplikasinya.

Pendidikan  sebagai disiplin ilmu tentunya memiliki konstruksi filosofis tersendiri sebagai bagian dari cabang-cabang filsafat pada umumnya. Dengan memahami akar filosofis masing-masing paradigma pendidikan itu kita bisa dengan mudah membaca karakter masing-masing. Minimal kita tahu aliran filsafat yang melatar belakangi suatu paradigma pendidikan.

Dalam filsafat pendidikan terdapat beberapa aliran yang saling mengkonstruksi masing-masing paradigma pendidikan tersebut. Maksudnya setiap aliran berusaha menampilkan bentuk keberfihakan serta karakter masing-masing yang berbeda.

Berangkat dari aliran-aliran filsafat yang bermacam-macam itu kemudian membentuk paradigma yang berbeda-beda pula. Sederhananya, paradigma yang dimaksud di sini adalah sebagai salah satu perspektif filosofis dalam membaca persoalan-persoalan yang berkaitan dengan pendidikan.

Dalam diskursus  filsafat pendidikan kontemporer terdapat jenis aliran dalam filsafat  pendidikan. Filsafat pendidikan itu yakni meliputi aliran progresifisme, esensialisme, perenialisme, eksistensialisme, dan rekonstruksialisme, aliran filsafat  tersebut memiliki karakter yang berbeda-beda.

Progresifisme bercirikan atas penolakan segala bentuk otoritarianisme dan abslutisme.  Disamping itu progresifisme  juga menaruh kepercayaan penuh terhadap kuasa manusia dalam menentukan hidupnya. Faktor kebebasan penuh yang dimiliki oleh manusia menjadi ciri khas manusia progresif.
Aliran filsafat yang kedua adalah aliran filsafat esensialisme, yakni pandangan filsafat yang bercirikan humanisme, dan merupakan perpaduan antara  filsafat idealisme dan realisme,  hampir sepadan dengan progresifisme.

Yang membedakan antara progresifisme dan esensialisme adalah pada orientasi pendidikan masing-masing. Filsafat pendidikan  progresifisme berhaluan masa depan sehingga dengan pendidikan dipandang sebagai upaya merekonstruksi secara terus menerus pengetahuan bagi manusia menuju kesempurnaan. Progresifisme berhaluan  anti kemapanan sehingga bertentangan dengan esensialisme, sementara aliran esensialisme lebih berorientasi  untuk mempertahankan nilai-nilai yang sudah mapan.

Aliran filsafat  pendidikan esensialisme merupakan gelombang counter atas pola  pikir  ilmiah dan materialistik abad modern, sehingga sangat mengabaikan potensi-ptensi  kemanusiaan (humanisme) karena modernitas membuahkan kehampaan spiiritualitas bagi manusia,  maka sangat bertentangan dengan fitrah manusia pada umumnya. Oleh karena itu pandangan filsafat esensialisme berusaha mengembalikan manusia sesuai fitrahnya.

Tujuan utama aliran filsafat ini  (esensialisme) adalah  menggapai kehidupan manusia di dunia dan di akhirat. Aliran ini bernuansa theistik karena menyempatkan ruang bagi dunia lain di luar batas dunia lain.
Aliran filsafat perenialisme bercirikan atas norma-norma kekekalan sesuai dengan namanya perennial yang artinya abadi atau kekal. Aliran ini merupakan gelombang counter atas  modernitas di barat yang cenderung kering dari nuansa religiusitas.

Aliran filsafat pendidikan eksistensialisme  mencuat kepermukaan pasca perang dunia ke dua. Pasca perang dunia ke dua peradaban manusia hampir mengalami kepunahan, banyak kemudian kalangan pemikir  mulai memikirkan nasib dunia dan peradabannya. Lahirlah aliran pemikiran eksisitensialis dalam bidang pendidikan.
Tujuan  utama  aliran filsafat pendidikan eksisitensialisme adalah mengembalikan sepenuhnya peradaban manusia  yang hampir mengalami kepunahan. Pasca perang dunia ke dua, peradaban manusia banyak mengalami kehancuran akibat keserakahan kelompok manusia. Filsafat eksistensialissme  mencoba untuk menjawab fenomena kepunahan manusia tersebut.

Filsafat pendidikan  selanjutnya adalah filsafat prendidikan rekonstruksionalisme, juga merupakan gelombang counter atas krisis kemanusiaan di era modern. Senafas dengan progresifisme  dan perenialisme, filsafat rekontruksionalisme berusaha membangun peradaban secara dinamis tanpa terhenti oleh kemapanan, disamping mengembalikan arti kebebasan manusia sesuai dengan fitrahnya.
Aliran filsafat  pendidikan rekonstuksionalisme menjadi kekuatan baru dalam usaha membongkar tatanan lama yang penuh dengan permasalahan, menjadi tatanan baru demi kebaikan manusia. Para penyokong  rekontruksionalisme  yakin akan tatanan dunia baru  dengan peradaban yang baru pula.

Dari seluruh aliran filsafat penddikan diatas melahirkan ragam paradigma. Setiap  paradigma akan menujukan karakter yang sesuai dengan karakter aliran-aliran yang dianutnya. Seperti halnya peradigma pendidikan konservatif, liberal  dan kritis juga menganut beberapa aliran diatas.
Paradigma-paradigma pendidikan yang berkembang selama ini bisa dikategorikan dalam tiga kelompok  besar, yaitu paradigma pendidikan konservatif, liberal, dan kritis. Kesemuanya itu memiliki akar filosofis  yang berbeda-beda.

Paradigma pendidikan konservatif misalnya, merupakan anak cabang dari filsafat skolastik di barat yang perenialis sekaligus esensialis.  Ketika peradaban barat didominasi oleh otoritas gereja, pada saat itu manusia tidak memiliki kuasa untuk merubah segala macam  tatanan social yang ada. Bahkan otoritas menentukan nasib dirinya  sediri tak dimilikinya. Otoritas sepenuhnya menjadi  milik gerja, sehingga para  pendeta seolah mewakili kehendak dan perwujudan Tuhan di bumi. Bahkan bisa dikatakan kelewat batas sehingga sangat fatal.

Filsafat skolastik yang bernuansa fatalistik telah menempatkan objek manusia sebagai objek  pasif. Kehadiran manusia di dunia sebenarnya hanya sekedar menjalankan sabda Tuhan yang telah termaktub dalam suratan takdir. Inilah karakter perenialistik yang terlalu berlebihan, sehingga dia hanya menjadi pelaksana pasif dari ketentuan-ketentuan Tuhan yang diyakinya benar. Manusia tinggal menjalankan Sabda Tuhan itu tanpa banyak melakukan banyak protes, kritik atau harus mengingkarinya.

Dengan membaca karakter paradigma pendidikan  konservatif, amat kentara di dalamnya yang bernuansa perenialistis dan esensialis. Akibatnya pendidikan konsevatif hanya sebatas perwujudan manusia dalam menjalani hidupnya. Manusia cenderung berfikiran naif atau bahkan magis karena keyakinan untuk mempertahankan norma-norma yang telah mapan sangat kuat. Bahkan pendidikan konservatif yang berorientasi keakhiratan itu telah menenggelamkan  eksistensi manusia sebagai pelaku aktif  kehidupannya.

Jelaslah jika paradigma pendidikan konservatif sangat naïf, bahkan telah terperosok ke dalam magis.
Pardigma pendidikan liberal yang bermuara pada  semangat modernisasi di barat lebih mengutamakan kebebasan indivdu. Jika kita membaca secara cerdas fenomena modernisasi  sebenarnya merupakan suatu gerakan protes, atau bisa dikatakan sebagai counter atas hegemoni otoritas gereja . paradigma ini termasuk beraliran progresif  dan eksistensialis. Modernisasi merupakan jawaban atas skolastik yang boleh dikatan telah meniadakan potensi-potensi  kemanusiaan.

Pasca filsof  Thomas Aquinas (1225-1274 M) peradaban mulai tercerahkan sewaktu rene descartes mendeklarasikan filsafat Rasionalisme-nya.  Kehadiran Descartes bisa dikatakan sebagai penyelamat peradaban barat yang pada waktu itu telah tenggelam dalam nuansa taklid-isme.
Descartes membuka satu pencerahan bagi peradaban barat  untuk mengakui arti kebebebasan individual. Penjegalan kebebasan  individu di masa skolastik,  telah menenggelamkan eksistensi manusia. Maka era kebebasan  dengan paham keilmuan baru  rasionalisme merupakan pertanda baik bagi keberaaan (eksistensi) manusia. Karena manusia dengan seluruh potensi yang dimiliknya  sangat diakui dan di hargai . Karakter rasionalis dan pengakuan terhadap hak-hak individual  menjadi karakter utama  filsafat progresifisme  dan eksistensialisme.

Membaca gelombang modernisasi di barat kita bissa menemukan beberapa karakter utama dari  karakter modernitas sebagai produk filasafat rasionalisme diantaranya; pertama, mengakui sepenuhnya arti kebebasan manusia dengan seluruh potensi yang dimilikinya konskuensi dari modernisasi yang sepenuhnya bersifat rasional telah mewajibkan yang menjadi karakter modernisasi itu kemudian mempertinggi semangat egoisme manusia. Kedua,  filsafat rasionalisme yang bermula dari metode "cogito" Descartes bercirikan akal (ratio). Maksudnya adalah semua pengetahuan dibangun atas asumsi rasional, setiap pengetahuan bukan hanya berdasarkan asumsi-asumsi filosofis, juga bukan hanya sekedar pengalaman empiris akan tetapi merupakan manifestasi atas ide-ide dalam realitas empirisnya. Oleh karena itu segala macam dogma yang menggumpal sepeninggalan abad Skolastik semakin terkikis habis.

Bangsa barat kemudian tampil dengan pengetahuan rasional mereka. Kontruksi pengetahuan barat berbalik seratus persen dari dogmatisme menu rasionalisme empiris. Barat kemudian semakin eksis dengan paradigma positifisme mereka. Ketiga, modernisasi disamping bercirikan kebebasan (individualisme) dan rasional juga bernuansa empiris maksudnya, pengetahuan rasional tidak hanya dilahirkan atas asumsi-asumsi rasional belaka akan tetapi harus teruji secara empiris. Paradigma lmu pengetahuan abad modern kemudian bernuansa positifistik.

Manusia di abad modern memiliki karakter rasional, bebas, dan berhaluan positifistik. Dari sinilah kemudian paradigma pendidikan liberal itu lahir. Namun, positifisik itu kemudian banyak menuai kritik. Pardigma positifistik (empirisme) memiliki karakter khusus seperti empiris (inderawi), universalisme dan generalisasi melalui kumpulan-kumpulan teori. Akan tetapi madzhab positifisme telah terbantahkan melalui gagasan-gagasan dari Jurgen Habermas seorang tokoh utama madhab frankfruit.

Kritik Habermas terhadap positifisme meliputi; pertama, pengetahuan instrumental (instrumental knowledge) yang bertujuan untuk mengontrol, memprediksi, memanipulasi, serta eksploitasi terhadap objek.  Kedua, tafsir ilmu pengetauan (hermeneutic knowledge)  yang betujuan hanya untuk memahami objek saja. Dan ketiga, pengetahuan kritis ( critical knowledge) atau emansifatory knowledge yang menempatkan pengetahuan sebagai katalis untuk membebaskan manusia.

Dengan memahami karakter pendidikan liberal itu, kita bisa memilah-milahnya dalam perspektif aliran-aliran filsafatnya. Paradigma pendidikan liberal yang rasional jelas bernuansa progregsif eksistensialistik dan esensialistik. Meskipun dalam berbagai aspek sedikit ke arah perenialistik, namun tidak seberapa, disinilah kemudian melahirkan problem kemanusian baru. Sementara paradigma pendidikan  kritis merupakan counter atas arus modernitas yang dipandang telah menghilangkan nilai-nilai humanitas, manusia-manusia modern justru semakin terasing dengan ilmu mereka (Teralienasi), dan juga terekploritasi dengan produk-produk modernitas.
Seharusnya manusia berfungsi sebagai subjek aktif yang menjalankan modernitas tadi tetapi realitasnya justru mengatakan lain. Justru manusia harus menjadi objek dari kemajuan teknologi  karya akal mereka sendiri. Modernitas kemudian menjadi sebuah paradoks bagi kebebasan manusia. Paradigma  pendidikan kritis bernuansa progresif, eksistensialis dan sekaligus rekonstruktif. Artinya paradigma kritis merupakan counter  pemikiran Skolastik  yang magis, juga sekaligus counter modernitas yang de-humanistik.

Paradigma pendidikan liberal ternyata belum mampu  menjawab problem kemanusiaan  abad mutakhir.  Meskipun berasaskan rasionalitas sebagai bagian dari potensi-potensi kemanusiaan paradigma yang satu ini  telah terhambat oleh modernitas yang cenderung mengeksploitasi dan mempersempit kebebasan manusia. Kondisi seperti itulah yang kemudian mewajibkan lahirnya paradigma baru dalam pendidikan.

Kehadiran paradigma pendidikan kritis bermula dari gelombang pemikiran intelektual postmodernis di Jerman. Metode dekonstruksi menjadi piranti paling efektif untuk mendobrak kemapanan-kemapanan pengetahuan, sehingga banyak persoalan yang tadinya telah baku menjadi berantakan. Pemikiran dekonstruksi memang mencoba kritis terhadap pengetahuan yang mapan . Namun, jika kita menganalisa lebih dalam lagi, prototype gelombang postmo itu sebenarnya sudah dimulai dari kehidupan seorang filsof eksisitensialis, Nietzsche. Pemikiran-pemikirannya yang dekonstruktif telah banyak membongkar kemapanan-kemapanan peradaban, sampai moralitas sekalipun.

Dalam konteks pendidikan, paradigma kritis telah diusung oleh sosok brilian dari brazil, dialah Paulo Freire sosok fenomenal yang pemikirannya sampai saat ini mejadi referensi bagi praktisi pendidikan maupun pengamat social kritis.

Paulo Freire yang telah menggagas pendidikan kritis (radikal) banyak dipengaruhi oleh pemikiran tokoh pendahulunya. Nietzsche, Karl Marx, Sartre, Maslow, adalah sebagian kecil dari tokoh –tokoh yang pemikiran mereka banyak mempengaruhi tokoh Freire. Oleh karena itu karakter dari pendidikan kritis sering bermuka banyak pendidikan kritis “dekonstruktif”, “kiri” (marxis), “humanis”(Maslowian), “Progresif” dan sebagainya.

Uraian singkat diatas mungkin sedikit memberikan gambaran seputar latar belakang seputar filosofis masimg-masing paradigma pendidikan. Namun sebelum membahas tiga paradigma yang besar yaitu antara paradigma pendidikan, konservatif, liberal, dan kritis, maka baiknya kita mempertanyakan terlebih dahulu apakah yang dimaksud dengan paradigma itu?

Secara sederhana, paradigma bisa diidentikkan dengan teori, konsep atau kumpulan pemikiran yang menjadi acuan dalam usaha menelaah dan mengkaji serta membandingkan suatu objek  pembahasan. Paradigma itu sendiri juga sering diidentikkan dengan perspektif, berisi kumpulan pengertian atau teori yang mengacu pada kerangka filosofis tertentu.

Dalam tradisi keilmuan kita,  paradigma itu seendiri  nantinya menjadi sebuah pisau analisis atau mata baca dalam  suatu pembahasan. Karena paradigma itu bermacam-macam, maka kesimpulan atau pemahamannya pun berbeda-beda. Paradigma pendidikan konservatif jelas akan berbeda dengan paradigma pendidikan liberal dalam memahami persoalan hakikat manusia. Demikian  juga dengan paradigma pendidikan kritis  akan berbeda pula dengan kedua paradigma tersebut dalam memandang hakekat manusia.

Kehadiran paradigma tesebut menjadi tawaran  bagi kita semua untuk menyikapi realitas pendidikan saat ini. Apakah kita akan menerima paradigma konservatif dengan segala  konsekuensinya atau sebaliknya kita akan sepakat dengan paradigma liberal, atau dengan paradigma pendidikan kritis  sebagai alternatif untuk menjawab  kejumudan pendidikan kita.

A. Paradigma  Pendidikan Konservatif.
Dalam konteks penddikan Islam,  paradigma konservatif mengenal dualisme  terutama sekali berkaitan dengan  pembelajaran (kurikulum) yakni antara kurikulum pendidikan Islam dan pendidikan umum. Disini kita akan membahas mengenai pemikran al-Ghazali yang pernah menggagas  mengenai  dualisme ilmu pengetahuan itu, dengan dualisme tersebut menyebabkan umat Islam cenderung Fatalistik. Kalau meminjam  istilah Teologi Islam, aliran yang berkembang  di kalangan umat Islam adalah aliran teologi Jabariyah. Paham teologis yang  satu ini beraliran perenialis sekaligus esensialis. Sama artinya jika pendidikan Islam bernuansa tradisional.

     Hakikat Manusia
Menurut filsafat pandidikan konsevatif, manusia hanya menduduki  posisi sebagai objek pasif. Manusia dipandang sebagai  objek dari kebijakan Tuhan  sehingga dia tidak memiliki daya upaya  untuk merubah nasib hidupnya. Apa yang telah dirasakan apa yang telah dijalani, dan apa  yang menjadi miliknya  maka itulah yag terbaik bagi mereka, inilah karakter aliran filsfat perenialis itu.

Manusia konservatif tidak mampu membaca relasi-relasi  social yang mempengaruhi  nasib hidupnya , baik secara langsung ataupun tidak langsung. Dia tidak bisa membantah  kondisi social  atau nasibnya  disebabkan keyakinan yang fatalistik. Dalam diri manusia  konservatif meyakini bahwa nasib, perbuatan baik maupun buruk, adalah ketetapan (takdir) dari Tuhan.  Oleh karena itu manusia konservatif  dikategorikan pada type berkesadaran magis.

Paradigma koservatif dalam pandangan Islam mengenal hakikat manusia sebagai objek statis  tanpa kebebasan berekspresi, berkreasi dan berdialektika  dengan beragam persoalan hidupnya. Orientasi pendidikan konservatif cenderung  untuk melestarikan norma-norma kemapanan, hal inipun senafas dengan aliran esensialisme.

Apliaksi nyata konsep manusia sebagai objek statis bisa dilihat dalam praktek-praktek pembelajaran  yang tertuang dalam metode-metode seperti  menghafal (muhafadzah)membaca (qiraah), dan  mennerjemah (tarjamah) menengar (istima’)  dan sebagainya. Manusia diposisikan sebagai  objek statis dan wajib taat kepada guru. Dalam istilahnya  kaum sntri dikenal semboyan smi’na waato’na. ketika kiayi atau ustadz mengajar atau memberikan intruksi murid-murid wajib mendengarkan ataumentaatinya.

   Hakikat  Pendidikan.
Dalam pandangan filsafat konsevatif  potensi-potensi konflik (kontardiksi) dalam relitas social selalu dihindari. Pendidikan  konservatif selalu mengutamakan harmoni hubungan antar relasi-relasi, sehingga hidup ini selalu dijalani enggan sabar dan tanpa neko-neko atau bermacam-macam,  pasrah dan tunduk pada norma-norma  mapan itu menjadi ciri aliran perenialis dan esensialis.

Pendidikan bagi kaum konservatif dikonotasikan sebagai proses menerima, bersabar atau menanggung nasib  dengan penuh keyakinan bahwa mereka yakin akan mendapatkan kebahagiaan kelak di akhiat. Paradigma pendidikan konservatif anti perubahan, tidak konstruktif dan kurang  progresif. Tidak ada prinsip persaingan hidup, apalagi harus merekayasa nasib  sesuai dengan kehendaknya sendiri.  Kondisi seperti ini terlihat jelas pasca kemenangan Al-Ghazali  yang berpolemik  dengan para filsuf sebelumnya. Al-Ghazali telah membius kesadaran umat Islam menjadi magis atau bernuansa perenialis atau esensialis.
Untuk merubah paradigma pendidikan konservatif, maka lahirlah paradigma pendidikan liberal.

      B. Paradigma Pendidikan Liberal
Berbeda dengan paradigma pendidikan konservatif, Paradigma pendidikan liberal bermuara pada  konsep modernisasi di Barat. Salah satu faktor modernitas adalah pengakuan sepenuhnya terhadap kebebasan individu. Di samping kebebasan individu, modernisasi juga mengedepankan kebebasan kuasa akal manusia (rasionalis). Paradigma pendidikan liberal berkiblat pada aliran filsafat eksistensialis dan progresifisme.

Namun, sekali lagi, paradigma pendidikan  liberal itu tetap berorientasi  untuk melanggengkan norma-norma yang telah mapan, akibatnya pendidikan liberal tidak konstruktif atau dinamis.
Paradigma pendidikan liberal tidak bisa lepas dari dasar filosofnya , yakni disebut aliran filsafat positivisme, sementara positivisme itu sendiri merupakan paradigma keilmuan yang berakar dari filsafat rasionalisme.

Adapun akar permasalahan yang mendasari munculnya paradigma ini adalah pandangan yang mengedepankan aspek potensi, perlindungan hak-hak, dan kebebasan manusia  (freedom, hurriyyah). Paham individualistik sangat kuat mempengaruhi paradigma pendidiakan liberal.
Semangat individualisme amat kentara dalam konteks kehidupan masyarakat  urban  seperti dalam rumah tangga tidak mengenal dengan tetangga lainnya. Fenomena seperti ini sudah lazim dalam realitas masyarakat perkotaan. Namun inilah sebenarnya yang menjadi bumerang bagi modernitas itu sendiri, sebab semangat modernisme diawal pertumbuhannya sudah jelas  untuk membebaskan manusia dari belenggu-belenggu determinisme. Akan tetapi, anehnya,  modernitas kembali membelenggu kebebasan manusia .

Dalam konteks potensi, akal manusialah yang dipandang paling urgen dalam paradigma pendidikan liberal. Manusia dipandang sebagai binatang yang rasional (animal rasional) merupakan kelainan tersendiri bagi ragam eksistensi yang ada. Manusia tidak bisa disamakan dengan eksistensi lainnya yang tidak berakal.
Disamping pendewaan akal manusia, paradigma pendidikan liberal juga mengakui atas hak-hak individu manusia.  Maksudnya setiap manusia memiliki kebebasan memilih  dan bertindak  sesuai dengan hatinya, orang lain tidak punya hak atas tindakan dan pilihannya. Oleh karena itu paradigma pendidikan liberal  bernuansa kebebasan manusia secara individual.

Paradigma pendidikan liberal juga mengalami beberapa anomali yang memerlukan penambahan-penambahan. Kebebasan manusia menurut paradigma ini bermuara pada prinsip Individualisme sebagai konsekuensi  dari arus modernisasi barat yang cenderung kering dari kehidupan religiusitas (Muarif,  2005 :46). Dalam paradigma ini cenderung terjadi pendikotomian antara pendidikan Islam dan pendidikan umum, di karenakan agama tidak dijadikan suatu bagian dari ilmu pengetahuan.

Untuk mencermati perkembangan pendidikan Islam yang ada, maka diperlukan paradigma yang dapat mendukung proses pendidikan di era globalisasi yang sarat dengan tuntutan modernisasi  dan dapat membendung ekses negatif dari modernisasi itu.