I. SEJARAH BERDIRINYA JQH AL MIZAN
Jam’iyyah Qurra’ Wa Al Huffadz (JQH) Al Mizan UIN Sunan Kalijaga merupakan Ormawa yang bergerak di wilayah pengembangan mahasiswa, yang memiliki interest dalam dunia kajian seni Al-Qur`an. Semangat untuk menghidupkan tradisi bernafas Qur`ani lekat menjiwai setiap kegiatan Ormawa ini. Di tengah perkembangan kampus UIN sebagai wadah mempertajam wacana keislaman ternyata di satu sisi kemudian mengikis sedikit demi sedikit beberapa tardisi yang terkesan non-ilmiah. Ada kemungkinan besar bahwa akan terjadi pelepasan simbolik keagamaan jika fenomena rasionalitas dipertaruhkan dengan warisan-warisan yang normatif. Seni Al-Qur`an yang dilestarikan oleh Ormawa ini bermaksud menjadi salah satu alat bagi transformasi akademik kampus UIN di tengah masyarakat Indonesia, yang notabene sampai hari ini, masih cenderung simbolik bahkan sangat identik dengan mistik.
JQH Al Mizan (sebelumnya merupakan salah satu dari 17 UKM) mencoba bertahan dari berbagai macam selentingan kuno dan tradisonalis. Ini disebabkan karena aktifitasnya yang sudah langka atau jarang ditemukan lagi pada masyarakat modern saat ini. Walaupun selentingan itu ada benarnya, namun itu tidak menjatuhkan semangat Ormawa ini untuk terus berkreasi. Dari lima divisi yang dimiliki, mempunyai prinsip bahwa program-program yang dilaksanakan oleh Ormawa ini memang diperuntukkan khusus bagi mereka yang benar-benar mengerti tentang sejarah pertemuan Islam Arab dengan budaya Indonesia. Maka tidak salah kalau kemudian, Ormawa ini banyak diminati oleh mereka yang bertingkah laku lokal namun berfikir global. Pelajaran penting yang bisa dipetik dari perjalanan sejarah JQH Al Mizan selama 10 tahun ini adalah, agama ternyata bisa bertahan karena permainan simbolnya, maka inovasi dan keteguhan untuk bertahan pada simbol-simbol tersebut merupakan kebutuhan pokok bagi setiap agama. Dan butuh kader-kader yang militan dan siap mati syahid guna perjuangan besar dan mulia tersebut.
Tahun 1998 tidak hanya menjadi tahun penting dimana mahasiswa mampu meruntuhkan rezim diktatorian tapi tahun itu pula lahir sebuah organisasi oleh sebagian mahasiswa yang mengalami kegelisahan melihat adanya sinyal negatif bagi perkembangan wacana kesenian al-Quran yang semakin hilang dari peredaran masyarakat era modern, begitu juga dengan mahasiswa kalangan UIN. Walaupun diakui, pada waktu itu, tidak adanya wadah secara organisatoris juga menjadi problem tersendiri yang juga menjadi momok manakutkan bagi sebagian mahsiswa-i yang pada awalnya sudah memiliki bakat atau minat semenjak sekolah menengah pertama atau dari lembaga pesantren. Maka, inisiatif untuk menciptakan wadah bagi mereka yang concern pada kesenian Al-Qur`an-pun dilakukan sebagi sebuah jawaban. Tepatnya, pada tanggal 28 Oktober 1998 Komunitas Tilawah dan Tahfidz terbentuk di bawah dua naungan Fakultas yakni Fakultas Fakultas Syariah, sedangkan Fakultas Ushuluddin menaungi komunitas Tahfidz.
Pada tahun 1998, dua komunitas ini diusulkan untuk bersatu menjadi satu organisasi dan menjadi Unit Kegiatan Mahasiswa di IAIN Sunan kalijaga di bawah pengawasan Pembantu Rektor III. Kemudian, organisasi ini diberi nama Jam`iyatul Qurra wal Huffadz (JQH) Al Mizan karena terdiri dari dua Divisi, yaitu Divisi Tilawah dan Tahfidz. Pada tahun itu, di pertengahan tahun kemudian muncul Divisi Tafhim yang bergerak dalam bidang wacana kesenian Al-Qur`an. Maka, saat itu resmi terbentuk tiga divisi pada masa awal Ormawa ini berdiri. Masalah penamaan Ormawa dengan nama Al Mizan juga punya cerita filosofis. Al Mizan yang berarti timbangan mempunyai maksud; penyeimbang atau alat kontrol perjalanan IAIN agar tidak melepaskan diri terlalu jauh dari beberapa warisan yang telah terkesan kuno dan tidak lagi pas dengan kultur akademik modern saat itu. Ada asumsi bahwa, kecelakaan besar akan terjadi pada kampus Islam semacam IAIN, jika warisan-warisan tersebut ditinggalkan dengan cara yang tidak bijaksana. Maka dengan nama al Mizan, organisasi ini bersedia menghabiskan darah guna mempertahankan ritual-ritual tersebut dalam rangka menciptakan masyarakat kampus yang cinta dan pandai menghargai serta ikut menjaga nilai-nilai Al-Qur`an.
Pada masa kepengurusan saudara Irohan (2000-2001) terjadi penambahan divisi, yakni Divisi Kaligrafi. Inisiatif ini muncul karena melihat peluang besar pada pengembangan organisasi lewat bidang ini. Beberapa faktor yang dianggap peluang saat itu adalah ditemukannya bakat-bakat terpendam pada beberapa kader yang bergabung dalam tiga divisi sebelumnya. Bakat-bakat ini harus difasilitasi dengan menciptakan wadah khusus, agar bisa berkembang dengan maksimal. Selain itu, juga karena faktor permintaan dari berbagai macam event untuk karya-karya kaligrafi semakin membabi buta. Maka, penentuan pengurus dan program khusus pelatihan dan pengembangan di bidang ini dirasa sangat penting. Akhirnya Divisi Kaligrafi resmi menjadi divisi di JQH Al Mizan pada tahun tersebut.
Kemudian, pada masa kepengurusan yang diketuai oleh saudara Fauzan (2002-2003) terjadi perubahan istilah pada Divisi Tafhim menjadi Divisi Tafsir. Perubahan ini, atas dasar perubahan orientasi pembelajaran yang mengarah pada metodologi penjelasan makna-makna Al-Qur`an secara sistematis. Ini juga terpengaruh oleh perkembangan wacana ke-Al-Qur`anan yang berkembang di Fakultas Ushuluddin dan kampus IAIN secara umum. Maka, program-program yang disusun di divisi ini kemudian disusun lebih sistematik dengan menggunakan referensi dari kurikulum yang berkembang di Jurusan Tafsir Hadis Ushuluddin. Perubahan nama ini terjadi pada masa pengurusan Affan Hasyim sebagai koordinator Divisi.
Pada pergantian kepengurusan JQH Al-Mizan yang diketuai Saudara Fauzan (2002-2003) ke Saudara Burhanuddin (2003-2004) itu juga terjadi penambahan divisi yaitu Divisi Sholawat. Awalnya, wacana tentang pembentukan divisi baru ini berkembang dalam Divisi Tilawah. Ide pembentukan divisi ini karena beberapa di antara anggota Tilawah ternyata mempunyai kesenangan bersenandung kalimat-kalimat Thayyibah dengan iringan musik tradisional. Dari sekedar obrolan ringan kemudian berkembang menjadi ekplorasi besar-besaran dalam bentuk sajian musik rebana. Pertemuan antara bakat penabuh rebana dengan bakat para pe-senandung akhirnya tidak bisa dibendung lagi. Beberapa tokoh penting dalam perkembangan wacana kemunculan Divisi Shalawat ini ialah saudara Sholikhul Hadi dan Muhammad Arif Rahman. Dengan perlahan namun pasti, alat-alat rebana didatangkan dan penunjukan personil rebana serta vokalis dilakukan. Dalam waktu singkat, kelayakan forum ini untuk menjadi satu divisi akhirnya ditemukan. Dan ditentukanlah pengurus dan beberapa program kerja, serta batasan wilayah gerak divisi sholawat guna keteraturan pelatihan dan pengkaderan serta pengembangannya.
Dalam perjalanan kepengurusan tahun 2004 sampai 2007-2008 (dari masa Khusnul Khamidah, Edi Purnomo dan Yusron) tidak lagi terjadi penambahan divisi atau perubahan nama struktur organisasi. Lima divisi dengan karakter dan wilayah garapan yang berbeda-beda dirasakan sudah terlalu besar untuk satu kepengurusan. Tidak berarti kehidupan plural Ormawa ini berjalan tanpa hambatan dan godaan. Tuntutan untuk hidup lebih bijaksana dan berlatih menjadi ”Khalifah” (menjamin kenyamanan bagi banyak kepentingan untuk satu tujuan) adalah latihan terberat di luar latihan-latihan rutin yang dilakukan oleh masing-masing divisi. Maka, tidak salah kalau perjalanan Ormawa ini sangat sarat dengan bimbingan langsung dari Allah Swt dan juga syafaat dari RasulNya.
II. VISI DAN MISI
VISI
“Terciptanya masyarakat kampus yang bernuansa Qur’any”
MISI
“Membentuk kepribadian mahasiswa yang berakhlak al karimah, berjiwa dan berwawasan Qur’any”
Untuk mensukseskan visi dan misi tersebut, JQH Al Mizan sering menyuplai kebutuhan anggotanya akan kegiatan bernuansa Qura`ni dengan mengadakan berbagai kegiatan pendukung selain latihan rutin. Kegiatan-kegiatan tersebut tidaklah menjadi rutinitas semata, namun semua anggota diharapkan mampu memperoleh makna positif dari setiap aktifitas tersebut. Kesenian Al-Qur`an diyakini sebagai salah satu media atau cara untuk menemukan ruh cinta kepada Allah dan Rasulnya. Maka, dengan sering melakukan ritual kesenian Al-Qur`an, organisasi ini menargetkan sikap pengembangan, dakwah, istiqamah, kekeluargaan, senasib seperjuangan dalam mengamalkan dan mensyiarkan Al-Qur`an kepada masyarakat kampus dan masyarakat umum.
III. AKTIVITAS ORGANISASI
Aktifitas organisasi disusun secara periodis dan sistematis pada setiap satu tahun kepengurusan. Kesepekatan tentang aktifitas apa yang akan dilakukan ditetapkan dalam Rapat Kerja Organisasi pada awal kepengurusan dan dievaluasi pada rapat evaluasi bulanan. Adapun kegiatan yang sifatnya rutinitas tahunan adalah:
- Pendidikan dan Pelatihan (DIKLAT) Anggota Baru.
- Peringatan Hari Lahir Organisasi (MILAD),
- Musyawarah Tahunan Anggota (MUSYTAG).
- Kegiatan internal divisi atau Latihan Rutin Divisi
Keempat program rutin di atas merupakan hal yang pasti harus dilakukan dalam setiap kepengurusan, walaupun seringkali dirangkai dalam kemasan yang berbeda-beda pada masing-masing periode.
Adapun kegiatan organisasi lainnya adalah berupa tambahan yang disepakati bersama dalam Rapat Kerja Tahunan atau berupa kegiatan yang disepakati selanjutnya. Kegiatan-kegiatan tersebut baik yang dilakukan oleh Pengurus Harian (PH) bersama pengurus divisi ataupun kegiatan yang sifatnya Lokal divisi. Semisal yang dilakukan oleh PH bersama semua pengurus Divisi;
- Study Comperatif
- MTQ (Mushabaqoh Tilawatil Qur’an)
- Muwadda’ah Di Bulan Ramadhan
- Peringatan Hari-Hari Besar Islam
- Syukuran Wisuda
- Srawung dalu
Dan yang sifatnya kerja lokal divisi;
- Divisi Tilawah
1. Latihan Rutin Kelas Dasar dan Variasi
2. Diskusi Ketilawahan
3. Haflah Tilawah
4. Kursus Tilawah
5. Menjadi utusan MTQ pada tingkat kampus dan Umum
6. Olah vokal
- Divisi Kaligrafi
1. Latihan Rutin Kaidah dan Lukis (warna)
2. Kamping Seni
3. Pameran
4. Kursus Kaligrafi
5. Utusan MTQ untuk cabang Nasakh, Dekorasi dan Mushaf pada MTQ tingkat Kampus dan Umum.
- Divisi Tahfidz
1. Setoran dan Mengulang Hafalan
2. Simaan Al Quran di masjid-masjid luar kampus, di kediaman hamba Allah.
3. MHQ internal Divisi
4. Haflah
5. Rihlah
6. Utusan MTQ pada level Mahasiswa dan Umum
- Divisi Tafsir
1. Kajian Mingguan
2. Kajian tematik
3. Bedah Buku
4. Seminar
5. Pameran Buku
6. Kajian Kitab tafsir Klasik
- Divisi Sholawat
1. Latihan Rutin (Rebana dan Marawis)
2. Study Pentas
3. Pentas panggung
4. Rekaman
5. Simthud durar
6. Olah Vokal
7. Diskusi sholawat
IV. STRUKTUR ORGANISASI
Dalam perjalanan 10 Tahun organisasi ini, wacana tentang susunan struktur organisasi agar bisa menjadi kerangka kerja sistematis dalam mencapai targetan pengembangan internal dan eksternal organisasi mengalami banyak perubahan. Pada masa pengurusan 2004-2005 eselon I dan II terdiri dari ketua Umum dan Ketua I dan II dengan wilayah kerja sebagai berikut.
Ketua umum menjamin koordinasi secara keseluruhan sedangkan Ketua I mengontrol perjalanan tiga divisi dan ketua II mengontrol dua divisi. Adapun sekretaris I bertugas untuk persoalan surat menyurat sedangkan sekretaris II bertugas untuk pengarsipan dan inventaris barang. Dan bendahara I bertugas untuk mengatur sirkulasi keuangan yang berasal dari Rektorat yang berhubungan dengan pengajuan proposal, pencairan dan laporan pertanggung jawaban. Sedangkan, bendahara II bertugas untuk sirkulasi keuangan yang berasal dari luar kampus dan setoran wajib dari setiap pemasukan di divisi.
Namun, pada pengurusan 2005-2006 sistem kerja eselon II (ketua I dan II) tersebut diubah menjadi alat kontrol pengkaderan (internal) dan pengembangan jaringan (eksternal). Ketua I bergerak di bidang pengkaderan dan ketua II bergerak di bidang pengembangan jaringan. Dan selanjutnya, jalur koordinasi ke setiap divisi dipertegas lewat pembentukan bidang pengkaderan dan jaringan pada masing-masing divisi. Sistem, kerja seperti ini bertahan hingga kepengurusan tahun ini.
V. PRESTASI
Dalam perjalannya JQH Al-Mizan sampai periode kepengurusan 2007-2008, telah mampu berprestasi dan berhasil mengangkat nama baik UIN Sunan Kalijaga dalam even-even lokal, nasional maupun internasional. Hal ini dibuktikan dengan prestasi-prestasi yang telah diraih anggota organisasi ini yakni sebagai berikut;
1. Juara II “Festival Nasyid Se- Yogya” di Yogyayakarta th. 2001
2. Juara III “Mushabaqoh Azan” Se-Yogya Jateng” di Yogyakarta th. 2001
3. Juara Umum Tropy Wakil Presiden RI pada “Festival Sholawat Internasional Walisongo ke-2” di
Yogyakarta th. 2002
4. Juara I Festval “Festival Rebana Internasional Walisongo ke-2” di Yogyakarta th. 2002
5. Juara I Khottil Qur’an (hiasan) pada “ MTQ Kab. Sleman” di Yogyakarta th. 2002
6. Juara Umum Putri pada “ MTQ Mahasiswa PT Se-DIY ” di Yogyakarta th. 2002
7. Juara II Khottil Qur’an pada “ MTQ Kab. Sleman” di Yogyakarta th. 2002
8. Juara II pada “ Festival Hadrah Kebo Pungkasan Se-DIY” di Yogyakarta th. 2002
9. Juara II pada “ Festival Malam Rabu Wekasan ” PP. Nurul Ummah di Yogyakarta th. 2004
10. Juara II Tilawah Dewasa Putra pada “MTQ Kab. Sleman” Yogyakarta th. 2005
11. Juara II Tahfidzul Qur’an Putri pada “ MTQ Kab. Sleman” Yogyakarta th. 2005
12. Juara III Khottil Qur’an Dekorasi Putra pada “ MTQ Kab. Sleman” Yogyakarta th. 2005
13. Juara I Fahmil Qur’an Beregu pada “ MTQ Kab. Sleman” Yogyakarta th. 2005
14. Juara I Khotil Qur’an Naskah Putri pada “ MTQ Kab. Sleman” Yogyakarta th. 2005
15. Juara II pada “Festival Rebana Se- DIY Jateng” di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta th. 2005
16. Juara I pada “ MTQ Mahasiswa ” UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta th. 2005
17. Juara III pada “Festival Rebana Se- DIY Jateng” Pekan Budaya Adab di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta th. 2006
18. Partisipan pada “MTQ Se-PTAIN Tk. Nasional” di Bandung 2006
19. Juara I pada “STQ cabang Tahfidz Tk. Kab. Sleman” di Yogyakarta th. 2007
20. Juara II pada STQ Tk. Mahasiswa Nasional Cabang Khottil Quran di Palembang 2007.
Selain itu, masih banyak lagi prestasi di berbagai even-even yang lain.
Akhirnya, ketika kita mampu mengambil nilai serta sikap kritis atas segala kondisi sosio-kultur yang terjadi pada al-mizan baik sebagai sebuah organisasi yang dituntut tetap berkarya dengan memunculkan inovasi-inovasi terbaru dan sekaligus ketersinggunganya dengan pihak kampus sebagai pegang otoritas penuh.
Maka pada waktu itulah kita telah mengamini apa yang dikatakan Sang Proklamator Soekarno tentang pentingnya sejarah, dan sekaligus mematahkan apa yang dikatakan oleh Hegel, bahwa ternyata: Sejarah telah mengajar kepada kita bahwa Al-Mizan selalu belajar dari Sejarah].
Tidak ada komentar:
Posting Komentar